JAKARTA – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab diminati sejumlah partai untuk bergabung di Pemilu 2024. Salah satunya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sudah menawarkan Habib Rizieq untuk bergabung di partai dakwah tersebut.
(Baca juga: FPI Diusulkan Jadi Parpol dan Habib Rizieq Bisa Nyapres di 2024)
Presiden PKS Ahmad Syaikhu dan beberapa petinggi telah bertemu Habib Rizieq membahas sejumlah isu. Di antara yang disikapi adalah kesamaan pemahaman dalam mewujudkan akhlak yang baik di Indonesia, tak hanya bagi masyarakat tapi juga pemerintah.
Selain PKS, Partai Masyumi juga telah mengundang Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab untuk bergabung di Pemilu 2024.
Lantas, bagaimana peluang Habib Rizieq bersama FPI di Pemilu 2024 mendatang?
Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW), Neta S Pane menyarankan Habib Rizieq Shihab dan organisasinya, Front Pembela Islam (FPI) membentuk partai politik ‘jika ingin berkuasa di Indonesia’. Menurut Neta, Habib Rizieq bisa menjadikan FPI sebagai parpol untuk nantinya ikut di Pemilu 2024.
"IPW mengingatkan Rizieq dan FPI, jika memang ingin berkuasa di negeri ini. FPI hendaknya dijadikan partai dan ikut Pemilu 2024," kata Neta melalui keterangan resminya kepada Okezone, Kamis (26/11/2020).
(Baca juga: Presiden PKS Ajak Habib Rizieq Gabung, tapi Belum Dijawab)
“Jika menang dalam pemilu dan pilpres 2024, Rizieq tentunya bisa menjadi presiden. Jadi tidak perlu memprovokasi dan memecah belah umat dan NKRI untuk meraih kekuasaan,"tandasnya.
Politikus Partai Gerindra Fadli Zon, menuturkan, sebaiknya Habib Rizieq tidak bergabung atau terafiliasi oleh partai politik manapun. Hal itu bersamaan dengan ketokohan ulama yang sangat kuat dimiliki oleh Habib Rizieq.
"Saya kira Habib Rizieq sebaiknya tidak ikut partai politik ya. Beliau ulama ketokohannya sudah diakui," kata Fadli kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kuatnya ketokohan Habib Rizieq tersebut ditandai dengan banyaknya massa yang menjemputnya ketika kembali ke Indonesia dari Arab Saudi. Bahkan,kata dia, Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pertama Soekarno dan Mohammad Hatta tidak mendapatkan hal yang sama.
"Kan tidak ada tuh orang dalam sejarah Indonesia, bahkan Bung Karno dan Bung Hatta aja proklamator tidak dijemput seperti itu di bandara. Itu tidak ada pengerahan apalagi ada pengerahan. Artinya itu pengakuan de facto dari rakyat Indonesia dan umat Islam Indonesia," ungkapnya.
Oleh karena itu, Fadli Zon menyarankan, pihak-pihak lain jangan mencari kegaduhan yang baru dengan membawa-bawa Habib Rizieq berafiliasi dengan partai politik. Menurutnya, akan lebih baik bekerja sama membangun Indonesia ke depannya agar bisa lebih baik lagi.
"Jangan menimbulkan kegaduhan baru. Nanti cari upaya kriminalisasi dan sebagainya, lebih baik kita berkerja sama kedepan membangun untuk bangsa ini," tuturnya.
"Habib Rizieq menurut saya sebagai ulama dan saya kira tidak ada terpikir untuk ikut partai politik. Sangat disayangkan kalau ikut partai politik," pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )