Letusan Muda
Craig dan koleganya sesama ahli kaldera sepakat, Toba adalah laboratorium terlengkap di muka bumi mengenai kaldera. Pasalnya, warisan letusan gunung itu masih banyak yang bisa ditemukan secara utuh. Menurut mereka, peristiwa 74.000 tahun lalu itu termasuk letusan muda secara geologis.
Penelitian Chesner yang paling fenomenal adalah tentang bathymetric atau kedalaman serta pemetaan dasar air, seperti danau atau laut (pada 2005 dan 2008).
Berdasarkan penelitian itu, Chesner menyebutkan, kedalaman Danau Toba tidak rata, tetapi bervariasi, antara 50 meter dan 500 meter. Pengukuran bathymetric yang dilakukan Chesner menggunakan metode pengambilan data kedalaman dengan single-beam sonar.
Metode ini memakai proses pendeteksi perambatan suara (frekuensi) di bawah kapal penarik. Selanjutnya, pencatatan perambatan suara itu menghasilkan peta-peta kedalaman air yang akurat.
Penelitian terkini tentang letusan Gunung Toba menyimpulkan, letusan pertama terjadi sekitar 800.000 tahun silam. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba meliputi daerah Prapat dan Porsea.
Sedangkan letusan kedua memiliki kekuatan lebih kecil terjadi sekitar 500.000 tahun lalu dan menghasilkan kaldera di sisi utara danau. Tepatnya di daerah antara Silalahi dan Haranggaol.
Letusan terdahsyat terjadi 74.000 tahun silam dan menghasilkan Danau Toba seperti sekarang dengan Pulau Samosir di bagian tengahnya. Letusan yang ketiga inilah yang menarik perhatian masyarakat dunia.
Untuk ukuran gunung super atau supervolcano, letusan dahsyatnya terbilang masih sangat baru. Jejak letusannya pun terbilang masih utuh dan sangat menggoda para ahli kaldera dunia untuk menelitinya terus-menerus.