Cerita Letusan Gunung Toba yang Membuat Separuh Bumi Tertutup Abu

Agregasi Solopos, Jurnalis
Minggu 13 Desember 2020 03:33 WIB
Danau Toba (foto: Medan Magazine)
Share :


Dua Dapur Magma

Kedahsyatan letusan gunung api raksasa (supervolcano) Toba itu bersumber dari gejolak bawah bumi yang hiperaktif. Lempeng lautan Indo-Australia yang mengandung lapisan sedimen menunjam di bawah lempeng benua Eurasia, tempat duduknya Pulau Sumatra, dengan kecepatan 7 sentimeter per tahun.

Gesekan dua lempeng di kedalaman sekitar 150 kilometer di bawah bumi itu menciptakan panas yang melelehkan bebatuan, lalu naik ke atas sebagai magma. Semakin banyak sedimen yang masuk ke dalam, semakin banyak sumber magmanya. Kantong magma Toba yang meraksasa disuplai oleh banyaknya lelehan sedimen lempeng benua yang hiperaktif.

Kolaborasi tiga peneliti dari German Center for Geosciences (GFZ) dengan Danny Hilman dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Fauzi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2010 menyimpulkan bahwa di bawah Kaldera Toba terdapat dua dapur magma yang terpisah.

Dengan dapur demikian, diperkirakan volume magma mencapai setidaknya 34.000 kilometer kubik. Itu mengkonfirmasi banyaknya magma yang pernah dikeluarkan gunung ini pada supereruption 74.000 tahun silam.

Penelitian Chesner pada 1991 juga menemukan bahwa magma di Toba masih ada. Kehadiran magma setelah letusan 74.000 tahun lalu bisa dilihat dari munculnya air panas di sisi barat Danau Toba. Lantas, apakah fenomena ini layak dikhawatirkan?

Apakah letusan dahsyat kaldera Toba masih bisa terjadi? Para pakar kaldera menampik kemungkinan Kaldera Toba akan meletus dalam waktu dekat. Bila melihat jarak tiga kali letusan yang mencapai ratusan ribu tahun, rasanya sang ‘raksasa’ Gunung Toba ini masih akan meneruskan tidur panjangnya dalam waktu yang sangat lama.

Kedahsyatan letusan gunung api raksasa (supervolcano) Toba itu bersumber dari gejolak bawah bumi yang hiperaktif. Lempeng lautan Indo-Australia yang mengandung lapisan sedimen menunjam di bawah lempeng benua Eurasia, tempat duduknya Pulau Sumatra, dengan kecepatan 7 sentimeter per tahun.

Gesekan dua lempeng di kedalaman sekitar 150 kilometer di bawah bumi itu menciptakan panas yang melelehkan bebatuan, lalu naik ke atas sebagai magma. Semakin banyak sedimen yang masuk ke dalam, semakin banyak sumber magmanya. Kantong magma Toba yang meraksasa disuplai oleh banyaknya lelehan sedimen lempeng benua yang hiperaktif.

Kolaborasi tiga peneliti dari German Center for Geosciences (GFZ) dengan Danny Hilman dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Fauzi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2010 menyimpulkan bahwa di bawah Kaldera Toba terdapat dua dapur magma yang terpisah.

Dengan dapur demikian, diperkirakan volume magma mencapai setidaknya 34.000 kilometer kubik. Itu mengkonfirmasi banyaknya magma yang pernah dikeluarkan gunung ini pada supereruption 74.000 tahun silam.

Penelitian Chesner pada 1991 juga menemukan bahwa magma di Toba masih ada. Kehadiran magma setelah letusan 74.000 tahun lalu bisa dilihat dari munculnya air panas di sisi barat Danau Toba. Lantas, apakah fenomena ini layak dikhawatirkan?

Apakah letusan dahsyat kaldera Toba masih bisa terjadi? Para pakar kaldera menampik kemungkinan Kaldera Toba akan meletus dalam waktu dekat. Bila melihat jarak tiga kali letusan yang mencapai ratusan ribu tahun, rasanya sang ‘raksasa’ Gunung Toba ini masih akan meneruskan tidur panjangnya dalam waktu yang sangat lama.

(Awaludin)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya