AS Tuding Iran Dalang Situs Ancaman Pembunuhan terhadap Pejabat

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Sabtu 26 Desember 2020 01:34 WIB
Kepala FBI Christpoher Wray.
Share :

Kepala FBI Christopher Wray, mantan kepala CISA Chris Krebs - yang dipecat bulan lalu oleh Trump karena menentang klaimnya atas kecurangan pemilu, Gubernur Michichan Gretchen Whitmer dan manajer implementasi sistem pemungutan suara negara bagian Gabriel Sterling, termasuk di antara pejabat yang namanya muncul di domain tersebut.

Awal bulan ini, Sterling menegur rekan-rekannya di Partai Republik, termasuk Trump karena tudingan kecurangan pemilu yang mereka buat telah menyebabkan sejumlah petugas pemilu menjadi sasaran intimidasi dan pembunuhan.

Semua domain yang terkait dengan operasi ini, beserta dengan versi arsip mereka, telah cabut dari dunia maya.

Sebagian besar akun media sosialnya juga telah ditarik. Namun, akun di media sosial VK dan Parler masih ada, kendati akun di Parler telah diatur menjadi akun privat.

Joe Slowik, seorang peneliti keamanan senior di perusahaan DomainTools, mengatakan dalam sebuah unggahan blog bahwa rincian pendaftaran domain yang tersedia untuk umum disiapkan untuk menunjukkan seolah-olah operasi tersebut berasal dari Rusia.

Namun, email yang terkait menggunakan domain "yandex.com" yang berorientasi global, bukan "yandex.ru" yang bahasa Rusia "yandex.ru".

Baca Juga : Donald Trump Sebut Vaksin Covid-19 Keajaiban Natal 

"Ini mungkin tidak langsung, atau dapat mendukung teori bahwa aktivitas tersebut mencoba untuk terlihat seperti tindakan yang dilakukan di Rusia, tetapi kurangnya keterampilan bahasa mendorong penggunaan situs com alih-alih ru yang berbahasa Rusia," tambah Slowik dalam pernyataannya lebih lanjut.

Ini adalah kedua kalinya para pejabat AS mengaitkan Iran dengan upaya untuk ikut campur dalam pemilu tahun ini.

Pada bulan Oktober, pejabat keamanan nasional mengatakan Iran bertanggung jawab dalam ancaman yang dikirim melalui email kepada pemilih Demokrat.

Email tersebut tampaknya datang dari Proud Boys, kelompok sayap kanan pro-Trump, dan dimaksudkan untuk "menghasut kerusuhan", kata Direktur Intelijen Nasional John Ratcliffe.

Iran membantah terlibat dalam email itu, dan sejauh ini belum mengomentari pernyataan FBI.

Sementara itu, Twitter menghapus hampir 130 akun terkait dengan Iran yang berusaha untuk "mengganggu percakapan publik" selama debat presiden pertama.

Beberapa akun mencuit mendukung Trump, sementara yang lain mendukung Joe Biden.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya