PEMBERONTAKAN G 30 S/PKI tahun 1965 adalah sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Lettu Pierre Tendean tercatat sebagai ajudan Jenderal A.H. Nasution yang ikut jadi korban. Selayaknya anak muda, Piere mempunyai kisah asmara dengan seorang gadis. Cerita ini terungkap di buku "Piere Tendean Sang Patriot, Kisah Seorang Pahlawan Revolusi".
"Bagi seorang Pierre Tendean, Penugasan Sebagai perwira muda di Medan juga adalah akhir pencarian. Di Medan ia mengenal seorang gadis bernama Rukmini Chamim atau Mimin,"ujar Abie Bisman atau Bung Sam, penulis dan editor buku Piere Tendean.
Dalam buku dituliskan, perkenalan terjadi karena adanya bujukan dan ajakan berulang kali dari temannya, Satrijo Wibowo dan Setijono Hadi. Comblangan ini pada awalnya selalu mendapat penolakan dari Pierre. Pierre menolak untuk berkenalan dengan siapa pun, dan hanya ingin fokus olahraga dan latihan selama berada di Yonzipur I.
Namun, Setijono dan Satrijo juga tidak menyerah begitu saja. Mereka tetap memaksa hingga akhirnya Pierre yang gerah atas ajakan teman-temannya ini menurut dan mengiyakan untuk bertemu dengan Mimin.
Terjadilah perkenalan itu, dan ternyata sosok Mimin pada akhirnya berhasil membuat Pierre rajin bertandang ke rumah keluarga Chamim di Jalan Sekip 4B, Medan. Lokasi asrama Pierre, Satrijo, dan Setijono di Sei Sikambing di kawasan Markas Kodam II/Bukit Barisan berada tidak jauh dari kediaman Mimin.
Pierre yang sebelumnya tidak pernah terpikir untuk mencari jodoh saat tengah bertugas harus mengakui bahwa sosok Mimin telah mengisi kekosongan hatinya, yang selama ini selalu didominasi oleh jiwa patriotisme.
"Begitu memikatnya sosok Rukmini di mata Pierre, pada kunjungan-kunjungan berikutnya Pierre memberanikan diri datang sendiri tanpa dikawal oleh kedua sahabatnya itu, hanya untuk dapat mengenal lebih dalam pribadi gadis bernama Rukmini,"terang Abie.
Saat itu Rukmini masih duduk di bangku SMA saat berkenalan dengan Pierre. Gadis yang terpaut umur delapan tahun dengan Pierre ini bukanlah gadis yang neko-neko. Jika ia menginginkan sesuatu, ia tidak lantas menyatakan. Ia hanya menanti seseorang bertanya, barulah ia berani menyampaikan keinginannya ini.
Baca Juga : Mengenal Rukmini Chamin Kekasih Pierre Tendean, Gadis Medan Berdarah Jawa
Baca Juga : Kisah Tambahsia Playboy Batavia yang Tewas Digantung
Meski begitu, dirinya memiliki kepribadian yang mirip dengan Pierre, yaitu tegas, meski dibungkus oleh perangai yang lemah lembut.
Sosok gadis sederhana, tapi perfeksionis inilah rupanya yang menjadi daya tarik Mimin di mata Pierre. Kesederhanaan Mimin begitu menonjol.
"Dia bukan tipe perempuan yang senang berfoya-foya meski sebenarnya keluarga Mimin terbilang cukup terpandang ketika itu,"katanya.
Pribadinya adinya yang unik, keluwesannya dalam bergaul, serta kelincahannya membuat Mimin meninggalkan kesan berbeda di mata Pierre.
Ternyata perasaan Pierre tidak bertepuk sebelah tangan. Sesungguhnya Rukmini pun sudah terpikat oleh sosok Pierre. Maka mereka lantas berpacaran.
Demi mengumpulkan biaya pernikahannya, saat itu Pierre yang sudah berpangkat Letnan Satu tersebut rela bekerja sebagai sopir traktor untuk proyek pembangunan Monas demi mendapatkan uang tambahan. Tidak hanya itu, diketahui Pierre pun sudah sempat mencari informasi soal tempat tinggal di kawasan Menteng untuk ia huni bersama Rukmini saat sudah menikah nanti.
Namun takdir berkata lain, di malam terjadi pengepungan rumah Jenderal AH. Nasution pada 30 September 1965, Pierre yang sebetulnya sedang tidak bertugas tiba-tiba berinisiatif menghadapi pasukan Tjakrabirawa. Namun, akibat instruksi yang tidak jelas dan tidak mengenali wajah Jenderal AH.Nasution, pasukan Tjakrabirawa salah tangkap serta langsung membawa Pierre ke Lubang Buaya dan langsung mengeksekusi Pierre.
Kejadian tragis ini membuat rencana Rukmini untuk membangun rumah tangga hanya dalam waktu dua bulan lagi bersama Pierre, kekasih pujaan hati harus kandas. Siapa sangka, acara lamaran pada 31 Juli 1965 menjadi momen terakhir Rukmini bisa bertemu dan melihat Pierre dalam keadaan sehat walafiat.
Di hari perayaan Kesaktian Pancasila tahun 1967, Rukmini datang untuk mengenang sosok Pierre kekasih tercinta. Dipisahkan oleh maut, membuat Rukmini disebutkan membutuhkan waktu cukup lama sekitar lima tahun untuk bisa mengikhlaskan kepergian Kapten Pierre Tendean dan menjalani hidupnya kembali.
(Angkasa Yudhistira)