Pangeran Sambernyowo mampu membunuh dengan pedangnya komandan pasukan perang Belanda yaitu Kapten Van der Pol. Kepala sang Kapten dipenggal dan dengan tangan kirinya diserahkan kepada Garwa Ampil tercinta sebagai pelunasan janjinya.
Mbok Ajeng Wiyah atau Matah Ati minta kepala Van der Pol kepada Pangeran Sambernyowo apabila dirinya bersungguh-sungguh ingin meminangnya.
Dalam perang itu, Pangeran Sambernyowo mampu menewaskan 600 orang musuh. Sementara korban di pihaknya hanya 3 orang. Hasil rampasan berupa sejumlah besar mesiu, 120 ekor kuda, 140 pedang, 160 karabin, 130 pistol dan perlengkapan militer lain dihibahkan kepada prajuritnya.
Lokasi alas Seto Kepyak adalah hutan yang letaknya sebelah barat selatan Rembang. Dalam buku "Restrukturisasi Budaya Jawa Perspektif KGPAA MN 1 "karya Zainuddin Fanani bahwa lokasi alas Seto Kepyak sudah dibelah jalan antar kabupaten Purwodadi ke arah kabupaten Blora, antara desa Pangkrengan dan desa Grogolan, di sebelah selatannya ada desa Drono”.
Alasnya tidak begitu besar dan sekarang sudah gundul. Dulu berupa hutan Jati bercampur Randu Alas. Pohonnya tinggi, banyak babi hutannya dan binatang buas lainnya.
(Qur'anul Hidayat)