“Sumber utama stunting diantaranya adalah bayi dengan berat badan saat lahir kurang (BBLR) dan bayi lahir prematur.. Kondisi tersebut biasanya disebabkan oleh ibu yang menderita anemia dan ibu yang hamil di usia kurang dari 20 tahun. Kami mencoba fokus pada dua faktor itu”, ungkap Wiryanta.
Pemutakhiran data stunting menjadi hal yang penting untuk memulai program ini, untuk mencapai target di 2024.
“Saat ini BKKBN selaku koordinator sedang melakukan pemutakhiran data stunting. Nantinya, ini akan menjadi dasar strategi pencegahan dan penanganan stunting hingga tingkat kabupaten/kota dan desa/kelurahan”, tuturnya.
Di tempat terpisah Koordinator Informasi dan Komunikasi Kesehatan, Kominfo, Marroli J. Indarto menjelaskann upaya pencegahan dan penanganan stunting yang dilakukan secara paralel.
“Sebagai langkah pencegahan nantinya kami akan melakukan screening terhadap remaja usia menikah terkait kesiapan untuk menghadapi kehamilan. Kami akan mengedukasi tentang kesehatan reproduksi, pentingnya menjaga jarak kehamilan dan kelahiran, bagaimana cara memonitor kehamilan, hingga pemenuhan gizi janin dan bayi”, katanya.