Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Menhan Mali Tewas dalam Baku Tembak di Tengah Upaya Kudeta

Rahman Asmardika , Jurnalis-Senin, 27 April 2026 |11:11 WIB
Menhan Mali Tewas dalam Baku Tembak di Tengah Upaya Kudeta
Menteri Pertahanan Mali Sadio Camara. (Foto: X)
A
A
A

BAMAKO - Menteri Pertahanan Mali, Jenderal Sadio Camara, meninggal dunia dalam baku tembak dengan kelompok militan di kediamannya di tengah gelombang serangan terkoordinasi di negara Afrika Barat tersebut. Militer Pemerintah Transisi Mali bertempur dengan kelompok militan sepanjang akhir pekan dalam apa yang disebut sebagai upaya kudeta.

Camara, yang menjabat sebagai menteri negara, menteri pertahanan, dan urusan veteran, meninggal dunia akibat luka-luka yang diderita selama serangan pada Sabtu (25/4/2026) di rumahnya di Kati, sebuah kota garnisun dekat ibu kota, Bamako. Pemerintah transisi mengatakan kediamannya dihantam oleh bom mobil yang dikemudikan oleh seorang pelaku bunuh diri, setelah itu Camara terlibat baku tembak dengan para penyerang dan "menetralisir" beberapa di antaranya sebelum terluka.

Serangan itu menyebabkan sebagian kediamannya ambruk, menewaskan atau melukai orang lain di dekatnya, serta menghancurkan sebuah masjid tempat para jemaah berada di dalamnya, menurut pernyataan pemerintah.

Dilaporkan RT pada Sabtu, Mali mengalami salah satu insiden keamanan paling serius dalam beberapa tahun terakhir, dengan serangan yang hampir bersamaan dilaporkan di Bamako, Kati, Gao, Sevare, dan Kidal. Kelompok militan Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) yang terkait dengan Al-Qaeda, dan Front Pembebasan Azawad (FLA) yang didominasi oleh suku Tuareg, mengaku bertanggung jawab atas serangan terkoordinasi tersebut, yang menargetkan situs militer, infrastruktur penting, dan posisi kepemimpinan senior.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan “data awal” menunjukkan kemungkinan keterlibatan badan keamanan Barat dalam melatih para penyerang. Awal tahun ini, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menuduh Prancis “berupaya menggulingkan pemerintahan nasionalis yang tidak diinginkan” di Sahara-Sahel menggunakan “kelompok teroris” dan “metode kolonial.”

Rusia memiliki kehadiran militer di negara Afrika Barat tersebut, yang telah dilanda ancaman terorisme selama bertahun-tahun meskipun ada misi militer Prancis selama satu dekade. Mali mengusir pasukan Prancis pada 2022, diikuti kemudian oleh Burkina Faso dan Niger, menuduh Paris memberikan dukungan langsung kepada teroris.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement