"Ia orang Jawa yang ditakuti Belanda. Serdadu Belanda tidak berani masuk ke rumahnya. Serdadu itu melihat ada gambar Ratu Belanda di lantai rumahnya. Kalau dia injak sama saja melecehkan simbol negaranya,"papar Buntoro.
Koran Bataviaasch Nieuwsblad 1919 memberitakan bahwa Tasripin wafat pada tanggal 9 Agustus 1919, pada usia 85 tahun. Tasripin juga mempunyai beberapa istri, anaknya antara lain bernama Amat Tasan yang mengalami masa-masa munculnya Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian menjadi Sarekat Islam (SI).
Setelah kematian Amat Tasan, bisnis keturunan Tasripin masih berjalan meskipun popularitasnya menurun. Sekitar 1950-an, sebuah badan usaha bernama Tasriepien Concern masih ada di Semarang.
"Keturunan-keturunan Tasripin kerap memakai suku kata 'tas' pada nama mereka. Tas Sekti misalnya, yang merupakan mertua dari Menteri Agama Republik Indonesia era Orde Baru, Munawir Sjadzali," ujarnya.
(Fakhrizal Fakhri )