Gempa ini, kata Daryono juga menelan korban jiwa sangat besar, sebanyak 1.500 orang meninggal, 64.000 rumah rusak, termasuk beberapa istana, 10.000 lumbung beras rusak, dan 2.431 Pura rusak, termasuk Pura Besakih juga mengalami kerusakan.
Daryono mengungkapkan menurut laporan Soloviev and Go (1974), guncangan gempa Bali 1917 ini telah memicu terjadinya tsunami yang teramati di pantai sebelah tenggara Pulau Bali, seperti Klungkung, dan Benoa. “Tinggi run up tsunami yang terjadi mencapai 2 meter,” katanya.
“Terkait rentetan gempa selatan Lombok-Sumbawa yang saat ini sudah tercatat 6 kali, tentu kita patut waspada. Harapan kita gempa ini aktivitasnya tidak terus berlanjut, tetapi segera meluruh dan berhenti aktivitasnya, meskipun BMKG akan terus fokus memonitor aktivitas gempa ini,” papar Daryono.
(Khafid Mardiyansyah)