Kisah Pangeran Diponegoro Bertemu Sunan Kalijaga, Diminta Mengubah Nama dan Diberi Panah Sarutomo

Doddy Handoko , Jurnalis
Selasa 20 April 2021 06:40 WIB
Pangeran Diponegoro (Foto: Ist)
Share :

Perubahan nama dari Ngabdurahim ke Ngabdulkamit mempunyai makna penting: Ngabdulkamit adalah nama yang disandang oleh Diponegoro selama Perang Jawa dan yang disenyawakan dalam gelarnya sebagai raja, yakni Sultan Erucokro pada Agustus 1825 (Carey 1981a:287 catatan 218; Ricklefs 1974b:244).

Nama itu juga ia gunakan di Manado—di mana segera sesudah tiba, ia meminta dipanggil hanya de­ngan “Pangeran Ngabdulkamit”, bukan “Pangeran Diponegoro”, gelar yang di­teruskannya kepada putranya yang sulung—dan di Makassar di mana ia menyebut diri “fakir” (sengaja hidup sebagai pengemis demi kesempurnaan rohani) Abdulkamit dalam karya-karya tulis keagamaannya.

Menurut Ricklefs, pilihan nama ini mungkin berkaitan dengan ‘Abd al-Hamīd I, Sultan Turki Usmani akhir abad ke delapan belas (bertakhta 1773–1787), raja Turki pertama yang mengaku memiliki kewenangan se­bagai kalifah, pelindung kaum muslim di seluruh dunia (Ricklefs 1974b:241, 2006:210).

Akan dilihat di bawah bagaimana pengakuan ‘Abd al-Hamīd I itu, yang tidak diwujudkan dengan sungguh-sungguh, mungkin saja secara khusus telah menarik perhatian Diponegoro dan para penasihatnya yang haji sebab, sebagaimana ditunjukkan oleh Ricklefs baru-baru ini, dengan mengajukan pernyataan serupa itu Diponegoro bertindak seperti Sultan Rum dalam cerita rakyat Jawa sebagai raja umat Islam sedunia (Ricklefs 2006:210).

Aneka upaya ‘Abd al-Hamīd I untuk memperbarui tentara Turki Usmani dan pengakuannya atas wewenang kalifah dilaporkan semua ke­pada Diponegoro oleh mereka yang pulang dari naik haji. Haji Badarudin, misalnya, yang sudah dua kali naik haji atas biaya Keraton Yogya dan mengabdi kepada Diponegoro selama Perang Jawa, tercatat telah dimintai keterangan oleh Kiai Mojo mengenai contoh-contoh praktik pemerintahan Turki di Mekah diperkirakan pada masa sebelum atau sesudah kota-kota suci diduduki oleh kaum Wahabi, 1803–1812/3).

Lagipula, banyak orang Jawa kagum dengan Kemaharajaan Turki Usmani waktu itu sebagai benteng kekuasaan Islam di Timur Tengah dan sebagai bakal pelindung terhadap meluasnya kekuatan Eropa yang Kristen (Carey 1979:217 catatan 93).

Diponegoro malah pernah menyalin sejumlah pangkat dan nama-nama resimen yang digunakan da­lam kemiliteran Turki Usmani untuk keperluan organisasi militernya. Karena itu pasukan kawal elitenya, yang mengenakan sorban aneka warna dan panji-panji resimen berlambang ular, bulan sabit, dan ayat-ayat Alquran (Van Doren 1851, II:328–9), ditata dalam kompi-kompi dengan nama seperti Bulkio, Turkio, dan Arkio. Nama resimen itu langsung meniru nama-nama Bölüki (dari kata Turki Utsmani bölük, satu regu), Oturaki, dan resimen kawal para sultan Turki Usmani, Janissar Ardia, yang waktu itu baru saja menjalani beragam perubahan penting.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya