Ia mendapat kesempatan untuk mempelajari teknik melukis ketika menjadi asisten seorang pelukis keturunan Tiongkok bernama Lee Man Fong.
Pemilik nama lengkap Ganes Thiar Santosa ini wafat pada 10 Desember 1995 di usia 60 tahun setelah berkarya selama lebih dari dua periode.
Hans Jaladara
Komikus yang melahirkan karya momentum yang berjudul Pandji Tengkorak di tahun 1968 sebagai tandingan komik Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH. ini berasal dari kota Kebumen di Jawa Tengah.
Kepiawaiannya dalam merangkai cerita merupakan hasil dari pengetahuannya yang luas berkat kegemarannya membaca. Untuk referensi adegan silat dan laga pun, karena pernah mempelajari kungfu dan judo semasa muda, Hans tidak memiliki kesulitan berarti saat menuangkannya dalam cerita komiknya.
Penggambaran karakter dan jalan cerita komik Pandji Tengkorak yang penuh lika-liku membuat sineas film melirik karya tersebut untuk disadur ke layar lebar pada tahun 1971.
BACA JUGA: Hasmi, Komikus Gundala Putra Petir yang Setia dengan Teknik Manual Tangan
Hans juga sempat membuat versi terbaru dari cerita Pandji Tengkorak pada 1984 dan 1996, tapi karena popularitas komik Indonesia yang kian merosot sejak akhir era 80-an, Hans akhirnya memilih untuk menekuni dunia lukis agar tetap bisa berkiprah di dunia seni gambar yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Banyak penggemar yang merasa kecewa atas keputusan Hans, tapi Hans sendiri mengaku bahwa ia masih tetap optimis menanti momen dimana komik lokal dapat meraih masa keemasannya kembali.
Hasmi
Harya Suraminata yang lebih dikenal dengan nama Hasmi (lahir di Yogyakarta, 25 Desember 1946) adalah salah satu komikus dan penulis skenario terkenal di Indonesia.
Buah karyanya yang sangat populer adalah Gundala Putera Petir, seorang tokoh superhero pembasmi kejahatan dalam jagad komik Indonesia.
Sebanyak 23 judul buku seri Gundala terbit antara tahun 1969 hingga 1982. Tokoh Gundala ia ciptakan setelah Maza yang telah lebih dulu muncul pada tahun 1968.
Petualangan Gundala berakhir pada tahun 1982 dengan buku terakhir berjudul “Surat dari Akherat”. Sempat muncul kembali sebagai komik strip di Jawa Pos pada tahun 1988, namun tidak bertahan lama.
(Rahman Asmardika)