JAKARTA - Kp.Norman Hadinegoro sejak kecil ia adalah tipikal pekerja keras dan mandiri. Di usianya yang baru menginjak SMP, ia sudah berwirausaha dengan berjualan rokok keliling.
Saat SMA ia bekerja sebagai fotografer di studio foto milik orangtuanya.
Kemudian Norman pindah ke Jakarta untuk kuliah. Menjadi sarjana ekonomi lalu dosen, kemudian keluar dan lebih memilih berjualan tanah seluas 280 hektar.
Pribadinya memang pekerja keras. Lahir di Lampung, 5 September 1955, ayah Norman adalah seorang tentara. Ekonomi keluarganya pas-pasan. Karena itulah di saat usianya masih SMP, ia sudah mulai mandiri menjadi pedagang kaki lima, berjualan rokok keliling.
“Saya mengasong rokok dari rumah sakit ke rumah sakit di Lampung. Kalau libur saya juga nyambi jualan koran di kapal laut Merak-Panjang. Hasilnya lumayan, uang jajan tidak minta sama orangtua dan saya sudah bisa beli sepeda sendiri,” kisahnya.
Lulus SMP ia melanjutkan sekolahnya ke SMA. Kali ini otak bisnisnya juga tak pernah surut. Ia menjalani profesi sebagai fotografer di sebuah studio foto mini milik ayahnya.
Sebagai hasil dari jerih payahnya itu, ia bisa membatu orangtuanya membuat rumah. “Kebetulan orangtua punya studio foto. Jadi warga sekampung kalau mau buat KTP, difotonya di studio itu. Saya yang jadi juru foto-nya,” ucap Norman.
Tamat SMA di tahun 1974 lantas ia meminta izin ke orangtuanya untuk melanjutkan kuliah ke Jakarta. Berbekal uang pensiunan ayahnya selama 6 bulan, Norman pun berangkat ke Jakarta. Ia memilih masuk pada Lembaga Kesenian Jakarta atau sekarang IKJ jurusan teater.
“Karena kekurangan bekal, saya waktu itu tidak punya kosan. Saya tinggal di kampus secara sembunyi-sembunyi,” ucapnya setengah bercanda.
Kesibukannya di dunia seni membuat kuliahnya terbengkalai. Selama 10 tahun kuliah, ia tak berhasil menjadi sarjana. “Karena sudah 10 tahun saya tidak tamat, akhirnya saya keluar dari kampus. Lalu saya pindah ke Universitas Jayabaya. Di kampus itu, saya dari awal sampai selesai tidak bayar. Bukan karena saya mahasiswa program beasiswa, tapi setiap ada pembayaran uang semester, saya pinjam bukti lunasnya ke teman, lalu saya foto kopi dan diganti namanya menjadi nama saya. Pihak kampus percaya saja,” ungkapnya.
Namun naas, saat ia sudah mulai sidang skripsi, kebohongannya mulai terbongkar. Padahal, nilai mata kuliahnya dari awal sampai akhir terbilang bagus.
“Saya ketahuan tidak pernah bayaran semesteran dari awal hingga akhir. Saya babak belur. Saya hanya bisa menangis. Rencana wisuda saya hampir saja gagal. Akhirnya saya meminta bantuan seseorang yang sudah saya anggap sebagai bapak untu membereskan masalah saya. Alhamdulillah akhirnya saya bisa juga diwisuda, dengan pembayaran dibayar kemudian,” kenang Norman.
Berhasil menyabet gelar sebagai sarjana ekonomi, Norman meniti karir sebagai dosen di Universitas Mercubuana dan Trisakti Jakarta. Pekerjaan sebagai dosen itu ia lakoni hampir 12 tahun lamanya.
“Jabatan saya saat itu sudah lektor. Di tahun 1996, saya memutuskan untuk berhenti menjadi dosen. Anak dan istri puasa untuk sementara waktu. Saya sudah mulai tidak nyaman dengan pekerjaan ini. Kebetulan ketika saya menjadi dosen saya sudah mulai senang investasi tanah. Saat itu, ada orang menawari tanah pada saya seluas 30 hektar di Jonggol. Dengan nekat saya pinjam uang ke teman senilai Rp 150 juta,” jelasnya.
Waktu itu harga tanah permeternya masih sekitar Rp 2000. Norman cerdik, dengan meminta pembayaran secara bertahap meskipun uang sudah ada di tangan.
“Saya bayar sebagai tanda jadi sebesar Rp 75 juta. Sisanya saya pakai untuk buat master plan dan dikavling-kavling juga buat brosur. Lalu saya tawarkan di DPR RI. Hasilnya banyak anggota DPR yang membeli tanah saya itu. Saya jual permeternya menjadi Rp 15 ribu. Saya dapat uang segar dari sana. Hanya dengan menjual 5 hektar saja saya sudah dapat uang sekitar Rp 750 juta. Dan saya masih punya 25 hektar lagi,” sebutnya.
Sepertinya investasi tanah sudah menjadi hobinya. Keuntungan dari penjualan sebagian tanahnya itu ia investasikan lagi untuk membeli tanah lainnya. Sampai kini ia setidaknya telah memiliki 280 hektar tanah di beberapa wilayah, juga di Jonggol yang sudah semakin luas.
“Keuntungannya itu saya investasikan lagi ke tanah. Saya jadi punya tanah di Jakarta dan di Gunung Geulis. Buat saya itu tabungan. Prinspinya, kalau saya jual tanah di satu tempat, saya harus beli tanah di tempat lain. Dengan begitu, tanah saya tidak habis-habis, malahan makin berkembang,” imbuhnya.
Menurutnya, kesuksesan yang kini didapatnya adalah berkat dari perilakunya yang bisa dipercaya orang lain.
“Hidup ini soal kepercayaan. Kalau saya jualan tanah, saya buat sertifikatnya. Dan sampai sekarang mereka aman-aman saja, tidak pernah ada sengketa. Sebua kebanggan bagai saya, karena tanah saya ini banyak pembelinya dari kalangan elit,” tukasnya.
(Khafid Mardiyansyah)