Norman, Mantan Pedagang Rokok Kaki Lima Punya Tanah Hektaran

Doddy Handoko , Jurnalis
Sabtu 29 Mei 2021 19:54 WIB
Foto: Istimewa
Share :

Namun naas, saat ia sudah mulai sidang skripsi, kebohongannya mulai terbongkar. Padahal, nilai mata kuliahnya dari awal sampai akhir terbilang bagus.

“Saya ketahuan tidak pernah bayaran semesteran dari awal hingga akhir. Saya babak belur. Saya hanya bisa menangis. Rencana wisuda saya hampir saja gagal. Akhirnya saya meminta bantuan seseorang yang sudah saya anggap sebagai bapak untu membereskan masalah saya. Alhamdulillah akhirnya saya bisa juga diwisuda, dengan pembayaran dibayar kemudian,” kenang Norman.

Berhasil menyabet gelar sebagai sarjana ekonomi, Norman meniti karir sebagai dosen di Universitas Mercubuana dan Trisakti Jakarta. Pekerjaan sebagai dosen itu ia lakoni hampir 12 tahun lamanya.

“Jabatan saya saat itu sudah lektor. Di tahun 1996, saya memutuskan untuk berhenti menjadi dosen. Anak dan istri puasa untuk sementara waktu. Saya sudah mulai tidak nyaman dengan pekerjaan ini. Kebetulan ketika saya menjadi dosen saya sudah mulai senang investasi tanah. Saat itu, ada orang menawari tanah pada saya seluas 30 hektar di Jonggol. Dengan nekat saya pinjam uang ke teman senilai Rp 150 juta,” jelasnya.

Waktu itu harga tanah permeternya masih sekitar Rp 2000. Norman cerdik, dengan meminta pembayaran secara bertahap meskipun uang sudah ada di tangan.

“Saya bayar sebagai tanda jadi sebesar Rp 75 juta. Sisanya saya pakai untuk buat master plan dan dikavling-kavling juga buat brosur. Lalu saya tawarkan di DPR RI. Hasilnya banyak anggota DPR yang membeli tanah saya itu. Saya jual permeternya menjadi Rp 15 ribu. Saya dapat uang segar dari sana. Hanya dengan menjual 5 hektar saja saya sudah dapat uang sekitar Rp 750 juta. Dan saya masih punya 25 hektar lagi,” sebutnya.

Sepertinya investasi tanah sudah menjadi hobinya. Keuntungan dari penjualan sebagian tanahnya itu ia investasikan lagi untuk membeli tanah lainnya. Sampai kini ia setidaknya telah memiliki 280 hektar tanah di beberapa wilayah, juga di Jonggol yang sudah semakin luas.

“Keuntungannya itu saya investasikan lagi ke tanah. Saya jadi punya tanah di Jakarta dan di Gunung Geulis. Buat saya itu tabungan. Prinspinya, kalau saya jual tanah di satu tempat, saya harus beli tanah di tempat lain. Dengan begitu, tanah saya tidak habis-habis, malahan makin berkembang,” imbuhnya.

Menurutnya, kesuksesan yang kini didapatnya adalah berkat dari perilakunya yang bisa dipercaya orang lain.

“Hidup ini soal kepercayaan. Kalau saya jualan tanah, saya buat sertifikatnya. Dan sampai sekarang mereka aman-aman saja, tidak pernah ada sengketa. Sebua kebanggan bagai saya, karena tanah saya ini banyak pembelinya dari kalangan elit,” tukasnya.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya