“Saat itu Ki Ageng Mangir datang menghadap sebagai seorang menantu. Ketika dia sedang sungkem, Panembahan Senopati membenturkan kepala menantunya ke Watu Gilang," kisah ujar Yanto, juru kunci situs Watu Gilang.
Makam Ki Ageng Mangir bisa ditemui di Kompleks Makam Kotagede yang memiliki keunikan tersendiri. Makam Ki Ageng Mangir sebagian berada di dalam benteng makam, sedangkan sebagian lainnya berada di luar benteng. Ini terjadi karena Ki Ageng mangir yang dianggap musuh dalam selimut Kerajaan Mataram.
Sementara Roro Pembayun setelah meninggal malah tidak dimakamkan di makam Kotagede. Menurut cerita, sejak meninggalnya Mangir, Roro Pembayun kemudian dititipkan pada Ki Ageng Karanglo dan dimakamkan di Karang turi, 2 km sebelah timur Kotagede.
Awalnya situs ini berada pada ruang terbuka, namun untuk melindungi situs ini dibangunlah suatu bangunan yang melindungi situs ini pada tahun 1934 atas perintah Hamengkubuwana VIII.
Pada sisi timur batu ini terdapat kikisan seperti bekas bekas pukulan sesuatu. Dulu batu ini terletak di Pendopo, tapi peninggalan Pendopo sudah tidak ada lagi sejak runtuhnya kerajaan Mataram.
Di atas watu gilang terdapat pahatan-pahatan tulisan dalam beberapa bahasa yang sudah tidak dapat terbaca lagi karena sudah terkikis. Tulisan ini konon berisi tentang keluh kesah dan kepasrahan terhadap nasib.
Konon di batu ini pula, Sutawijaya atau Panembahan Senopati mendapat wangsit melalui Lintang Johar. Batu andesit hitam ini dibawa dari hutan Lipuro yang kini dikenal dengan daerah Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY. Di atas singasana batu inilah Kerajaan Mataram digerakkan oleh Panembahan Senopati.
"Orang yang datang ke tempat ini biasanya untuk menjalankan ’lelaku’ atau semacam ritual terkait dengan kepercayaan tertentu. Ada juga yang ingin hajatnya terkabul misalnya naik pangkat, sekolahnya lancar dan rejekinya bertambah,"ucapnya.
Kotagede, terletak di selatan Kota Yogyakarta. Dulu merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam pada abad XVI-XVII, sebelum akhirnya berpindah ke Kartosuro tahun 1614.
Di daerah ini kita bisa melihat peninggalan-peninggalan Mataram yang didirikan tahun 1575 oleh Panembahan Senopati.
Di antara beberapa peninggalan Mataram Islam di Kotagede adalah situs Watu (batu) Gilang dan Watu Gatheng.
(Sazili Mustofa)