Dari tempat pertapaannya, Baron Sekeber dapat melihat keindahan Kota Pati. Ia kemudian turun menuju Desa Kemiri dan bertemu seorang gadis bernama Rara Sari atau Rara Suli, putri seorang janda di desa itu. Baron Sekeber menginap di rumah janda tersebut hingga akhirnya Rara Suli melahirkan putra kembar bernama Danurwenda dan Sirwenda.
Penduduk setempat melaporkan kejadian tersebut kepada Adipati Jayakusuma yang menjadi penguasa Pati. Ibu dan anak tersebut ia boyong ke kediamannya.
Istilah baron merupakan gelar kebangsawanan Jerman. Dr HJ de Graff menyatakan bahwa gelar baron tidak dikenal orang-orang Jawa sebelum bertemu dengan Gubernur Jenderal VOC, Gustaaf Willem Baron.
Kemungkinan tokoh Baron Sekeber terilhami dari berbagai baron berdarah Jerman yang direkrut oleh VOC, (Johan Andries Baron von Hohendorff.
Menurut Dr Th Pigeaud, kisah Baron Sekeber berawal dari Hikayat Iskandar Zulkarnaen saduran dari cerita Arab karangan al-Suri.
Beberapa bagiannya dikutip pengarang Sejarah Melayu (1612) dan Serat Sekender (abad ke-19), kemudian dikutip lagi oleh pengarang Serat Babad Pati dengan nama Raden Baron Sekeber.
Nama Baron Sukmul kemungkinan berasal dari nama ayah kandung Gubernur Jenderal VOC yang pertama, yaitu Jan Pieterzoen Coen.
Dalam suatu perbincangan dengan Sultab Agung pada tahun 1622, utusan VOC bernama Dr. H. De Haen menanyakan perihal seseorang bernama Juru Taman.
Sultan Agung menjelaskan bahwa Juru Taman adalah seorang berkebangsaan Italia yang bekerja kepada ayahnya ,Panembahan Hanyajrawati, pada bagian kaputren.
Namun, karena ulahnya yang mengganggu para selir raja, ia kemudian dipindahkan ke Krapyak (hutan lindung tempat raja berburu rusa). Juru Taman juga dipanggil Mas Jenggot karena perawakannya yang tinggi besar serta berjenggot.
(Sazili Mustofa)