Lebih lanjut, Anies menuturkan, menambah kapasitas rumah sakit di tengah lonjakan kasus seperti sedang berlomba atau berkejaran. Di satu sisi pemerintah menambah daya tampung rumah sakit. Namun di sisi lain jumlah kasusnya terus bertambah.
"Penambahan itu seperti berlomba. Satu sisi kita menambah kapasitas rumah sakit, menambah kapasitas isolasi, tapi juga jumlah kasusnya bertambah terus, sekarang ini rusun seperti Rusun Nagrak, Rusun Pasar Rumput disiapkan untuk tampung mereka yang isolasi terkendali dan pengawasan diberlakukan bersama TNI-Polri," tuturnya.
Anies berujar pada Kamis 24 Juni 2021, Jakarta mendapatkan rekor penambahan kasus harian tertinggi yakni mencapai 7.505. Lalu pada hari ini lebih rendah meskipun masih masuk kategori sangat tinggi yakni 6.934. Dia juga bilang jumlah kasus aktif di Ibu Kota mencapai lebih dari 40 ribu dan angka ini masih terus bertambah.
"Jadi kasus aktif Jakarta, kasus aktif artinya jumlah orang yang sudah terkonirmasi positif sedang isoman atau isolasi di rumah sakit dan belum dinyatakan negatif, jumlah kasus aktif itu lebih dari 40 ribu di Jakarta dan masih naik angkanya. Padahal dahulu ketika kita alami gelombang pertama di awal Februari itu paling tinggi 27 ribu, sekarang 40 ribu, jadi angkanya cukup tinggi," tuturnya.
Kendati demikian, Anies memaparkan bahwa testing yang dilakukan DKI sangat tinggi yakni 13,5 kali lipat dari standar yang sudah ditetapkan Badan Kesehatan Dunia alias WHO. Bahkan, jumlah testing di Jakarta separuhnya dari total nasional.
(Sazili Mustofa)