DALAM Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Trunojoyo adalah keturunan penguasa Madura, yang dipaksa tinggal di keraton Mataram.
Setelah ayahnya dieksekusi oleh Amangkurat I pada 1656, dia meninggalkan keraton, pindah ke Kajoran, dan menikahi putri dari Raden Kajoran kepala dari keluarga yang berkuasa di sana.
Pada 1670, Kajoran memperkenalkan menantunya, Trunajaya kepada pangeran mahkota, yang baru saja diusir oleh raja karena skandal, dan keduanya menempa persahabatan yang meliputi ketidaksukaan bersama terhadap Amangkurat.
Pada 1671 Trunajaya kembali ke Madura, di mana dia memanfaatkan dukungan pangeran mahkota untuk mengalahkan gubernur setempat dan menjadi penguasa Madura.
Baca Juga: Kisah Ki Ageng Henis, Leluhur Raja Mataram dan Guru Jaka Tingkir
Ia lantas melakukan pemberontakan melawqn Amangkurat. Pemberontakan dumulai dengan serangkaian serangan dari para perompak Makassar yang berbasis di Demung terhadap kota-kota perdagangan di pantai utara Jawa.
Serangan pertama terjadi pada 1674 di Gresik tetapi dipukul mundur. Trunajaya mengadakan pernikahan dengan Karaeng Galesong, pemimpin orang Makassar, pada 1675 dan merencanakan penyerangan lebih lanjut.
Ketika VOC merebut Surabaya dari Trunajaya pada bulan Mei 1677, Trunajaya melarikan diri dengan dua puluh meriam perunggunya, dan meninggalkan 69 meriam besi dan 34 meriam perunggu.
Pasukan Trunajaya terdiri dari orang Jawa, Madura, dan Makassar. Ketika para pemberontak menyerbu Jawa pada 1676, mereka berjumlah 9.000 orang dan terdiri dari para pengikut Trunajaya dan para pejuang Makassar.
Pemberontakan tersebut diikuti oleh para bangsawan Jawa dan Madura lainnya. Khususnya, penguasa Giri, salah satu penguasa spiritual Islam yang paling menonjol di Jawa, bergabung pada awal 1676.
Karena tidak memiliki tentara dan harta kekayaan dan tidak dapat mengukuhkan kekuasaannya, Amangkurat memutuskan untuk bersekutu dengan VOC. Amangkurat pindah ke Jepara dengan kapal VOC pada September 1677. Raja harus menyetujui konsesi luas yang dituntut VOC sebagai imbalan untuk memulihkan monarkinya.
Pemberontak mencapai puncaknya saat jatuhnya ibukota kerajaaan Mataram Plered pada Juni 1677. Raja dalam kondisi sakit, dan ketidakpercayaan di antara para pangeran kerajaan.
Amangkurat melarikan diri ke barat dengan pangeran mahkota dan pengiringnya, membiarkan pemberontak memasuki dan menjarah jeraton.
Para pemberontak kemudian mundur ke Kediri, membawa harta kekayaan kerajaan bersama mereka. Setelah bentengnya jatuh di Kediri, Trunajaya berhasil melarikan diri ke pegunungan di Jawa timur.
Pasukan VOC dan raja mengejar Trunajaya, yang terkucil dan kekurangan makanan, menyerah kepada VOC pada akhir 1679.
Awalnya, dia diperlakukan dengan hormat sebagai tawanan komandan VOC. Namun, saat melakukan kunjungan ke kediaman bangsawan di Payak, Jawa Timur, pada 2 Januari 1680, dia ditikam oleh Amangkurat II l.
(Sazili Mustofa)