DALAM prasasti Trowulan I berangka 1358 M tercatat bahwa Surabaya sudah ada sejak jaman dulu. Surabaya (Churabhaya) masih berupa desa di tepi sungai Berantas
Surabaya (Churabhaya) juga tercantum di Negara Kretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca tentang perjalanan pesiar Hayam Wuruk pada tahun 1385 M dalam pupuh XVII (bait ke 5, baris terakhir).
Pertempuran antara Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit melawam pasukan tar-tar dari dinasti Mongol, diduga terjadi di sepanjang aliran sungai sampai muara Sungai Kalimas yang sekarang Tanjung Perak atau Ujunggaluh.
Menurut kitab Pararaton, pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese diusir dari Pulau Jawa. Pertempuran berakhir di Pelabuhan Ujunggaluh dengan kemenangan pasukan Raden Wijaya.
Baca Juga: Kisah Desa Emas dan Piring Emas di Kolam Segaran Majapahit
Dikisahkan di Negara Kretagama dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Mongol, Raden Wijaya minta izin kembali ke Majapahit. Hal ini untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Kubilai Khan, sebagai wujud penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga.
Raden Wijaya dan pasukannya menghabisi kedua perwira dan para pengawal dari Mongol yang menyertainya. Kemudian, ia memimpin pasukannya menyerbu pasukan Mongol yang masih tersisa di Daha yang sedang berpesta kemenangan.
Pasukan Mongol yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan menyerang tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan.