Lelahnya Nakes Tangani Pasien Covid-19, Tidur Pun Harus Curi-Curi Waktu

Antara, Jurnalis
Kamis 01 Juli 2021 22:39 WIB
Tenaga kesehatan harus curi waktu untuk bisa tidur sejenak beristirahat (Foto : Antara)
Share :

KEDIRI - Gempuran pasien Covid-19 di Kota Kediri, Jawa Timur, yang semakin tinggi membuat tenaga kesehatan (Nakes) harus berjuang ekstra keras. Penumpukan pasien semakin membuat tenaga kesehatan stres dan tak punya waktu untuk sekadar istirahat, agar bisa tidur, mereka pun curi-curi waktu.

Sejak awal pandemi Covid-19 yang terjadi, pasien memang datang silih berganti. Bukan hanya warga Kota Kediri. Banyak juga pasien dari luar kota dirujuk untuk dirawat di rumah sakit ini.

RSUD Gambiran Kota Kediri adalah salah satu dari beberapa rumah sakit rujukan untuk pasien Covid-19. Rumah sakit ini merawat pasien dengan gejala berat.

Ritme kasus yang naik turun tetap membuat tenaga medis juga harus tetap melakukan tugasnya. Pasien boleh saja berganti, namun tenaga medis adalah mereka yang ditugaskan.

Tenaga kesehatan di RSUD Gambiran Kota Kediri, kini mulai kelelahan menyusul dengan pasien Covid-19 yang mulai tinggi lagi dalam beberapa waktu terakhir.

Hal ini karena pasien yang datang silih berganti hingga terjadi penumpukan. Kondisi itu membuat tenaga medis harus berjuang ekstra keras.

"Pasien datang tidak berhenti, akhirnya terjadi penumpukan di IGD. Itu yang membuat kami stres. Pasien yang datang duluan belum dapat kamar, sudah ada lagi pasien baru," kata Kepala Ruang IGD RSUD Gambiran Kota Kediri Gigih di Kediri, Kamis (1/7/2021).

Secara kapasitas, di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Gambiran Kota Kediri hanya tersedia 18 tempat tidur. Namun sejak terjadi lonjakan kasus COVID-19 dalam dua pekan terakhir, jumlah pasien yang datang tak kurang dari 30 orang setiap hari.

Manajamen RSUD Gambiran Kota Kediri sebenarnya telah menambah jumlah tenaga kesehatan untuk menangani pasien.

Nyatanya, mereka tetap kewalahan. Saat ini tak kurang dari 34 perawat dan bidan, serta 20 dokter telah disiagakan. Mereka bekerja secara bergilir di rumah sakit rujukan Covid-19 ini.

Bukan tanpa risiko para tenaga medis itu bekerja. Merawat pasien bukan tidak mungkin membuat mereka ikut terpapar. Itu karena penularan Covid-19 cepat.

Bagi Gigih, bisa terpapar penyakit memang menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Rumah sakit adalah tempat merawat orang dengan beragam sakitnya, termasuk Covid-19.

"Satu sisi kami harus melayani pasien dengan baik. Di sisi lain kami juga menjaga diri agar tidak terpapar. Satu tenaga medis sangat berarti dalam situai seperti ini, jangan sampai ada yang sakit," kata Gigih.

Baca Juga : Pasien Covid-19 yang Meninggal Syahid, Ini Kata MUI

Pasien yang datang ke rumah sakit pun kondisinya beragam. Ada yang sakit dengan gejala ringan hingga berat. Sebagian besar dari mereka memiliki gejala batuk, kehilangan indra penciuman, hingga sesak nafas dengan saturasi oksigen yang rendah.

Saturasi oksigen atau kadar oksigen para pasien juga beragam. Namun, dalam kurun waktu akhir-akhir ini, saturasi pasien dalam kondisi tidak bagus, di bawah 90 dengan frekuensi nafas lebih dari 30.

Bukan tanpa beban menghadapi pasien dengan gejala seperti itu. Sebagai tenaga medis, sudah menjadi tugasnya agar pasien yang datang dirawat dengan baik bahkan bisa selamat.

Jika mendapati pasien dengan kondisi tidak bagus, yang bisa dilakukan oleh tenaga medis adalah berusaha saling menguatkan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya