SRAGEN - Sebuah sumur kawak terletak di Dukuh Jipangan RT 010, Desa Jambanan, Sidoharjo, Sragen. Sumur itu dikeliling pagar setinggi 1,5 meter dengan dua pintu masuk. Sumur itu dibangun dengan permukaan tembok segi empat namun pada lubang sumur itu terlihat tidak lazimnya sumur. Ada empat rongga berukuran besar pada setiap sudut segi empat itu.
Para warga dukuh setempat dari RT 008-RT 015 hilir mudik memasuki lokasi sekitar sumur kawak itu. Mereka menaburi bunga mawar pada empat sudutnya. Sebelum menabur bunga, ada sejumlah warga yang berdoa untuk keselamatan dan seterusnya.
Tabur bunga itu dimulai dari sudut barat daya kemudian bergerak ke sudut tenggara, timur laut, dan terakhi di barat laut. Ritual itu dilakukan hampir setiap warga serasa membawa aneka makanan tradisional yang dikumpulkan di tanah lapang di sebelah selatan sumur kawak itu.
(Baca juga: Asrama Haji Donohudan Akan Dialihfungsikan Menjadi RSDC)
Sumur kawak itu tak memiliki nama. Warga mempercayai bila sumur kawak itu ada sejak zaman wali. Bahkan ada juru kunci yang mengurus sumur itu secara spiritual karena ada sosok sepasang orang tua yang mendiami sumur itu dengan sebutan Kaki Sumber dan Nyai Sumber. Sumur itu juga dianggap sebagai cikal bakal atau punden di Dukuh Jipangan.
Para warga mengumpulkan makanan yang dibawa dari rumah di dua lokasi yang ditandai dengan pohon pisang. Di bagian atas terdapat aneka hiasan bewarna merah dan putih. Paling ujung terdapat bendera merah putih dari kertas.
(Baca juga: Tragis! Anak Gantung Diri di Sebelah Jenazah Ibunya)
Di pohon pisang itulah ditancapkan aneka makanan yang ditalikan pada sebilah bambu. Di bawahnya digelar plastik sebagai tempat meletakkan makanan. Setelah terkumpul makanan didoakan dan dijadikan rebutan.