Ketua DPD : Pasien Covid-19 yang Depresi Harus Dihadapi dengan Simpati

Tim Okezone, Jurnalis
Senin 26 Juli 2021 15:48 WIB
Ketua DPD RI LaNyalla Mattalitti. (Foto : Ist)
Share :

JAKARTA - Kabar seorang pasien positif Covid-19 diduga dianiaya warga mendapat perhatian Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Ia mengajak masyarakat mengedepankan rasa simpati menghadapi pasien Covid yang memiliki tekanan psikologis.

Dalam sebuah video yang viral di media sosial, diperlihatkan seorang pria diadang warga dengan kayu. Pria dalam video tersebut diketahui bernama Salamat Sianipar (45). Sementara warga yang mengelilingi Salamat dalam video adalah warga kampungnya.

Peristiwa itu diduga terjadi di Desa Sianipar Bulu Silape, Kecamatan Silaen, Tobasa, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (22/7).

“Saat ini, banyak sekali kejadian pasien Covid-19 menjadi depresi karena tidak bisa terima dengan keadaannya. Bahkan, ada beberapa peristiwa pasien Covid bunuh diri, karena memang tekanan sosial penyakit ini cukup besar. Warga harus bisa simpatik menghadapi pasien Covid seperti ini,” tutur LaNyalla di sela-sela reses di Mojokerto, dalam siaran pers yang diterima, Senin (26/7/2021).

Warga menghadang Salamat lantaran pria tersebut sering keluar rumah. Padahal, ia seharusnya menjalani isolasi mandiri. Istri Salamat mengungkapkan, suaminya mencoba menularkan virus kepada keluarga dan warga yang ada di kampung itu.

Warga sudah beberapa kali mengamankan Salamat dan mengembalikannya ke tempat isolasi mandiri yang disiapkan kampungnya. Namun Salamat kembali keluar dan hendak pulang ke rumah.

Akhirnya warga terpaksa menggunakan kayu serta bambu saat kembali mengamankan karena Salamat berusaha meludahi warga.

LaNyalla memahami ketakutan masyarakat. Namun ia berharap masyarakat menghindari aksi-aksi kekerasan.

“Kalau memang sulit menghadapi pasien yang depresi, serahkan saja kepada petugas yang berwenang. Karena petugas sudah memiliki keahlian dan pastinya menghadapi pasien dengan fasilitas memadai serta sesuai protokol kesehatan,” jelas Senator asal Jawa Timur itu.

Pihak kampung sebenarnya sudah menyiapkan kebutuhan Salamat selama isolasi mandiri, termasuk kebutuhan makanan. Hanya saja, Salamat tak mengindahkan anjuran isolasi mandiri.

Baca Juga : Kasatgas Covid-19 Sebut Isolasi di Wisma Atlet Cukup Bawa Hasil Swab Antigen

“Kebutuhan medis dari sisi psikologi setiap orang berbeda-beda. Perangkat desa perlu lebih bijaksana, di saat sekiranya sudah tidak bisa ditangani masyarakat, seharusnya langsung berkoordinasi dengan ahlinya untuk menghindari kejadian seperti ini,” kata LaNyalla.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya