Pasca Pecat PM dan Bubarkan Parlemen, Presiden Tunisia: Saya Tak Akan Jadi Diktator

Antara, Jurnalis
Sabtu 31 Juli 2021 10:19 WIB
Presiden Tunisia Kais Saied. (Foto: Reuters)
Share :

Pada Senin (26/7/2021), Ennahda, partai terbesar di parlemen yang berhaluan Islam moderat, melakukan aksi duduk di luar parlemen setelah mereka dikepung tentara. Ratusan pendukung Ennahda dan Saied terlibat bentrokan, beberapa saling melemparkan batu dan botol.

Peradilan mengatakan mereka telah memulai penyelidikan terhadap empat orang dari Ennahda karena "mencoba melakukan tindak kekerasan" selama aksi protes.

Dari keempat orang itu, seorang di antaranya merupakan anggota dewan partai dan dua lainnya memiliki hubungan dengan pemimpin partai.

Langkah Saied membekukan wewenang eksekutif tampaknya mendapat dukungan luas di Tunisia.

Negara itu selama bertahun-tahun mengalami salah urus, korupsi, kelumpuhan politik dan stagnasi ekonomi. Kondisi itu diperberat dengan dengan adanya lonjakan kasus Covid-19 tahun ini.

Amerika Serikat pada Jumat mengirimkan 1 juta dosis vaksin Moderna ke Tunisia melalui program COVAX, kata kedutaan besar AS di Tunisia.

Saied pada Jumat memindahkan waktu pemberlakuan jam malam Covid-19 dari pukul 19 ke pukul 22.

Meski mengalami krisis politik, belum ada tanda-tanda kerusuhan terjadi di Tunisia sejak aksi protes di luar parlemen pada Senin.

Washington telah menjadi pendukung vokal demokrasi Tunisia sejak revolusi.

"Kami mendesak Presiden Saied untuk memberi peta jalan yang jelas dan segera mencabut aturan darurat, serta menghentikan pembekuan parlemen," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Jalina Porter pada Jumat.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya