“Pelangi tercipta karena hujan dan matahari. Bagaimana mungkin muncul pelangi jika matahari tak ada, dan yang tersisa hanya hujan belaka? Kau matahariku. Akulah hujanmu. Pelangi ada karena kita berdua ada. Aku tak mau kau tinggalkan, wahai suamiku...”
“Ke sinilah, biarkan aku mengecup keningmu...”
Dengan sekuat tenaga, melawan kedua kakinya yang tak bisa dijejakkan, Sinta menyorongkan tubuhnya. Menyorongkan keningnya untuk dikecup sang suami tercinta. Lalu ia mencium kening sang suami hingga air matanya jatuh di kening suami tercinta.
Setelah dengan susah payah saling berganti mengecup kening dan berengkuhan, kedua ubun-ubunnya sama-sama basah oleh air mata, dan seakan hujan tercipta dari kedua pasang mata itu dengan lebatnya. Lalu Gus Dur mengatakan sesuatu.
"Sinta, maukah kau beri aku pemandangan yang terindah di dunia?" Ujarnya dengan terbata dan gemetaran di pembaringan.
"Apa...itu, Mas Dur?" Jawab sinta tak kalah terbatanya.
"Jika nanti saatnya aku memejamkan mata dan dimakamkan, tak boleh ada air mata yang meluap dan basah di pipimu lagi?”
Di salah satu sudut kamar RSCM itu sebagai saksi, sepanjang malam ada sepasang kekasih yang dua pasang matanya terus basah oleh air mata, tetapi kedua bibirnya sekuat tenaga saling menunjukkan untuk tersenyum dan mengenang sesuatu yang indah ketika masa muda. Demikianlah, telah tercipta hujan, telah tercipta matahari, maka lahirlah pelangi yang begitu menawan sebagai sebuah kisah.
(Widi Agustian)