JAKARTA - Berbicara sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memang tak ada habisnya. Salah satu yang jarang tersorot yakni Presiden keempat Indonesia dikenal lekat dengan kendaraan umum.
Kebiasaan menumpangi kendaraan umum itu bahkan masih dilakoni Gus Dur saat menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada 1984-1999.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Timur Tengah, Gus Dur memang memilih mengajar di Pesantren Tebuireng. Ia juga menulis berbagai artikel ilmiah, opini, kolom, dan esai di sela-sela kesibukannya mengabdi di pesantren milik keluarganya itu.
Alhasil, masyarakat mulai mengenal luas Gus Dur lewat berbagai tulisannya meski dirinya menetap di Jombang.
Baca juga: Beredar Kabar Istri Gus Dur Sinta Nuriyah Meninggal, Anak: Ibunda Saya Sedang Mengaji
Seperti dilansir dari NuOnline, Kamis (19/8/2021), Abdul Mun’im DZ dalam Fragmen Sejarah NU (2017) mengisahkan bahwa Gus Dur masih kerap menggunakan transportasi umum saat menjabat Ketua Umum PBNU. Gus Dur sama sekali tidak mengubah gaya hidupnya yang sederhana, santai, akrab, dan bersahabat dengan siapa saja.
Dengan kendaraan umum itu pula cucu dari KH Haysim Asyari itu menemui KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) di Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, hingga bersilaturahmi dengan para kiai yang ada di Tanah Air.
Baca juga: Humor Gus Dur: Kebosanan Pemancing pada Rezim
Saat diundang lokakarya di sebuah pesantren di Cilacap, putra Wahid Haysim itu menggunakan bus hingga menumpangi angkot dan becak agar bisa sampai ke tujuan.
Kala itu, Gus Dur dikenang kerap datang dengan membawa segepok map berisi makalah dan fotokopi kliping sebagai bahan ceramahnya.
Pada 1985, diceritakan oleh KH Husein Muhammad dalam bukunya Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (2015), Gus Dur pernah menyambangi sahabatnya, KH Muhammad Jinan di Gunung Balak Lampung. Gus Dur menggunakan bus menuju Lampung kemudian meneruskan perjalanan dengan angkot.
Baca juga: Kisah Cinta Gus Dur dan Sinta, Sampai Akhir Hayat
Gus Dur juga berjalan kaki sejauh 4 kilomenter untuk bisa menuju pesantren tersebut. Jalanan yang dilalui Gus Dur menuju pesantren hanya setapak.
Sifat kezuhudan Gus Dur bagi Kiai Husein merupakan wujud nyata atas kedalaman ilmu Gus Dur dalam kehidupan sehari-hari. Sebab itu Kiai Husein sendiri menjuluki Gus Dur sebagai Sang Zahid, manusia dengan sifat zuhud yang tinggi.
Baca juga: Kisah Gus Dur : Murid Berbakat yang Ditolak Kuliah di Belanda
Pengembaraan Gus Dur dalam menyelami setiap detak kehidupan menjadi alasan untuk meraup sebanyak-banyaknya hikmah sehingga dirinya tidak peduli dengan identitas sosialnya ketika harus berjejal dengan masyarakat umum di bus maupun angkot.
(Fakhrizal Fakhri )