JAKARTA - Wakil Presiden Ma'ruf Amin ingin ormas Islam anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) tetap bersatu kendati dalam beberapa hal menjumpai perbedaan. Ia tak ingin perbedaan ini menjadi momok yang mengusik kebersatuan.
"Perbedaan-perbedaan yang ada di ormas sebetulnya bukan sesuatu yang harus menjadi ketidaksatuan. Jadi perbedaan ijtihad itu saya kira bukan sekarang saja tapi sejak jaman dulu (sudah ada)," ucapnya saat menjadi pembicara Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) MUI I 2021 secara virtual, Rabu (25/8/2021).
Ma'ruf memaparkan, saat ini ada sekitar 80 orang yang masuk dalam kepengurusan Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI, di mana dirinya menjadi ketua. Anggota Wantim juga diisi oleh para ketua umum ormas Islam.
"Itu anggotanya ada 61 ormas yang sudah memperoleh legitimasi. Ini cukup besar 61 ormas. Di situ ada tokoh-tokoh, ada 19, sehingga jumlahnya 80 lebih anggota Wantim," paparnya.
Baca juga: Wapres: Industri UMKM Halal Jadi Kunci Akselerasi Ekonomi Syariah Indonesia
Banyaknya ormas Islam yang menjadi anggota MUI berpotensi menghasilkan beragam perbedaan, baik dari cara berpikir maupun bergerak. Namun demikian, MUI sebagai wadah pemersatu harus bisa mengelola perbedaan itu agar tidak menjadi sumber perpecahan.
"Jadi ini merupakan forum ukhuwahnya. Sebenarnya untuk menyatukan seluruh kekutan secara prinsip-prinsip ajarannya sudah ada dalam Alquran. MUI juga sudah punya landasannya untuk dijadikan pedoman," imbuhnya.
Baca juga: Percepat Penurunan Stunting, Wapres Minta Rencana Aksi Nasional Segera Disusun
"MUI sebagai leader, imamah institusionaliyyah, hanya memang dalam implementasinya masih belum utuh, oleh karena itu Wantim sedang menyiapkan konsep tentang bagaimana menyatukan ini," tutur Wapres.
Lebih lanjut, Wapres mengatakan bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Bahkan fenomena itu juga sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad SAW, para sahabat, serta para imam mazhab, seperti Syafii, Hanafi, Maliki, dan Hambali.
"Tapi mereka tidak pernah bermusuhan, tidak pernah kehilangan rasa kesatuan, karena apa? Tujuan murni yang suci itulah yang menyatukan mereka, walaupn mereka berbeda-beda caraa berpikir dan ijtihadnya didalam mencapai sesuatu yang menurut mereka baik. Jadi sebetulnya tak ada alasan perbedaan itu membuat tidak besama," ucap Wapres.
Baca juga: Mukernas Ke-1 MUI, Miftachul Akhyar Sampaikan 3 Peran dan Fungsi Ulama
Mantan Ketua MUI itu menambahkan bahwa perbedaan menjadi sumber konflik jika diintervensi dengan hawa nafsu.
"Tidak dikhawatirkan terjadinya perbedaan dalam mencari jalan kebenaran. Yang dikhawatirkan itu yaitu pengaruh hawa nafsu, jadi perbedaan itu menjadi sumber konflik ketika diintervensi oleh hawa nafsu, bukan oleh perbedaan (itu sendiri). Ini yang menjadi penting untuk kita, sepanjang tidak ada hawa nafsu kepentingan-kepentingan, Insya Allah ini tidak perlu ada, ini yang ingin kita ramu kembali," tutur Wapres.
Baca juga: Wapres: Vaksinasi Covid-19 Perintah Agama, Sudah Ada Petunjuk Ulama
(Fakhrizal Fakhri )