Bahkan di saat virus Covid-19 melumpuhkan kegiatan banyak pihak, komunitas ini sukses mengadakan ‘Online Food Bazaar: Festival Kuliner Indonesia’ yang melibatkan 8 UKM, 17 menu dengan harga 45 dirham dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia.
Saat ini anggota komunitas ACC mencapai 300 orang, sebagian besar didominasi oleh ibu rumah tangga yang juga memiliki semangat untuk membanggakan Indonesia dengan melakukan diplomasi melalui kuliner.
Kuliner merupakan sarana promosi paling mudah yang dapat diterima oleh berbagai kalangan.
Misalnya jamu kunyit asam buatan Kristantinah Chika yang mendapat sambutan positif tidak hanya dari warga Indonesia tapi juga masyarakat internasional, baik itu warga negara Malaysia, India bahkan Portugis turut menikmati minuman tradisional Indonesia tersebut. Perempuan yang akrab dipanggil Chika ini menuturkan bahwa ia tidak hanya ingin mengenalkan jamu sebagai minuman yang menyehatkan, namun juga warisan budaya bangsa.
“Di tengah kesibukan saya mengurus 2 anak, saya menyempatkan diri untuk memproduksi jamu. Harapan saya, masyarakat internasional tahu bahwa Indonesia tidak hanya punya batik dan rendang tapi juga jamu,” terangnya.
Demografi penduduk PEA yang 85% didominasi oleh pendatang dari berbagai negara menjadi kesempatan berharga bagi anggota komunitas ACC untuk belajar memperkaya wawasan tentang kebudayaan dan kuliner negara lain. Diantaranya Nenden Setiawati dan Fitri Mutia yang mengembangkan bisnis kulinernya ke tanah air.