SEBAGAI kerajaan Islam yang besar, Demak bukanlah kerajaan yang damai peperangan. Bagaimana tidak kerajaan tercatat pernah terjadi perang saudara di internal Kerajaan Demak.
Dikisahkan dalam buku "Hitam Putih Raja-Raja Jawa Intrik, Konspirasi Perebutan Harta, Tahta, dan Wanita" karya Sri Wintala Achmad, dijelaskan Demak saat itu dikuasai Arya Penangsang.
Baca juga: Cita-Cita Kerajaan Demak Satukan Pulau Jawa Lewat Perkawinan Politik
Saat itu Arya Penangsang berhasil merebut kekuasaan Kerajaan Demak setelah berhasil membunuh Sunan Prawata melalui utusannya yakni Rangkut.
Setelah itu, Arya Penangsang juga sempat terjadi perselisihan dengan Raden Mukmin, hingga memunculkan perselisihan antara Pajang dan Jipang, bermula sejak Sultan Trenggana akan naik tahta sebagai sultan Demak.
Baca juga: Peran Wali Songo di Kerajaan Demak, Hancurkan Pasukan Portugis hingga Mendirikan Masjid
Pada masa itu Raden Mukmin yang menghendaki ayahnya sebagai sultan Demak, memerintahkan Ki Surayata untuk membunuh Raden Kikin, ayah Arya Penangsang. Tujuannya agar Raden Kikin pesaing Sultan Trenggana, tidak menjadi raja.
Pada saat pulang salat Jumat, Raden Kikin yang baru sampai di jembatan dekat Masjid Demak ditikam oleh Ki Surayata hingga tewas. Oleh utusan Raden Mukmin, mayat Raden Kikin pun dibuang ke sungai. Kelak Raden Kikin dikenal dengan Pangeran Seda Lepen, atau pangeran yang meninggal di sungai.