JAKARTA - Penculikan dan pembunuhan para jenderal beserta seorang perwira TNI AD pada 1 Oktober 1965 dini hari masih lekat di ingatan masyarakat Indonesia. Kejadian biadab itu menimbulkan coretan tinta hitam dalam perjalanan panjang negara yang ketika itu baru menginjak usia 20 tahun. PKI diungkapkan menjadi dalang atas tragedi itu. berikut adalah sederet tokoh yang terlibat dalam kasus Gerakan 30 September atau yang dikenal sebagai G30S PKI.
BACA JUGA: Letjen Suprapto, Eks Ajudan Jenderal Sudirman Penentang Angkatan Kelima Bentukan PKI
D.N Aidit
Dipa Nusantara Aidit, atau D.N Aidit adalah ketua komite sentral PKI (Partai Komunis Indonesia) yang memiliki andil besar dalam perkembangan partai itu. Ia mulai mempelajari teori Marxis ketika bergabung dengan Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda, cikal bakal PKI.
Di ranah parlemen, Aidit sempat didapuk menjadi wakil ketua MPR periode 1960 hingga 1965. Melansir sebuah jurnal Ilmiah Kebudayaan bertajuk ‘D.N Aidit, Sastra dan Geliat Zamannya’ yang ditulis Yoseph Yapi, Aidit dikenal sebagai seorang cendikiawan yang banyak menulis soal gagasannya terhadap kondisi sosial budaya. Ia menyebarkan tulisannya itu ke media massa dan dalam bentuk buku.
BACA JUGA: Suasana Mencekam di Sumur Maut saat Pencarian Jasad Pahlawan Revolusi
Meskipun ia seorang komunis, namun dirinya sangat mendukung paham Marhaenisme yang dikembangkan Soekarno.
Ketika tragedi pembantaian 7 perwira TNI AD terjadi di tahun 1965, Aidit adalah orang yang paling dicari. Ia dituntut harus bertanggungjawab atas apa yang sudah dilakukan oleh partainya itu. Banyak kontroversi dan persepsi terkait akhir hayat Aidit. Beberapa sumber menyebut, Aidit dieksekusi mati di sebuah sumur di Jawa Tengah pada 22 November 1965.
Doel Arif
Letnan Satu (Lettu) Dul Arief ditunjuk langsung sebagai pelaksana tugas penculikan para perwira TNI AD pada 1 Oktober 1965 dini hari. Perintah semula, para jenderal harus dibawa dalam keadaan hidup, karena bertujuan untuk diculik. Namun, saat kegiatan penculikan akan dieksekuis, Doel mengeluarkan perintah jika jenderal harus dibawa dalam keadaan hidup atau mati. Hal itulah yang menyebabkan rencana awal menjadi kacau balau.
Terlebih, tugasnya untuk menangkap A.H Nasution gagal. Ia justru membawa orang lain, yakni ajudan Nasution, Pierre Tendean. Lolosnya Nasution dianggap menjadi bumerang untuk PKI.
Hingga kini, tidak ada yang tahu pasti seperti apa akhir kehidupan Doel Arif. Ia seketika menghilang dan tidak diketahui keberadaanya.
Sjam Kamaruzzaman
Melansir jurnal Artefak berjudul ‘Peranan Sjam Kamaruzzaman dalam Gerakan 30 September tahun 1965’, Syam mulai mengenal Aidit di akhir 1949, dan sempat menjadi asisten pribadi Aidit. Hingga akhirmya, Syam bergabung dengan PKI pada 1960. Di PKI, ia menjadi anggota Departemen Anggota PKI yang mengemban tugas melakukan pembinaan secara rahasia ke kalangan militer. Lantaran departemen ini tidak berjalan baik, maka dibentuklah Biro Chusus PKI yang bertugas merekrut orang-orang atau pihak militer secara ilegal, yang bersimpati terhadap PKI.
Ia memegang peranan sangat penting, karena Biro Chusus yang diketuainya itu mencari anggota TNI (dulu masih bernama ABRI) dan menanamkan ajaran kiri. PKI pun sukses menyusupi angkatan di TNI.
Setelah tragedi G30S terjadi, Sjam mengakui jika ia melakukan berbagai perintah tersebut atas komando Aidit. Dirinya dijatuhi hukuman mati pada 1968, namun baru dieksekusi 18 tahun setelahnya yakni 1986.
Untung Syamsuri
Komandan Batalyon I Tjakrabirawa, Letkol Untung Syamsuri menjadi pemimpin Gerakan 30 September 1965. Untung juga pernah mendapat pendidikan politik dari salah Alimin, seorang tokoh PKI. Sebenarnya, karier Untung dalam dunia militer tergolong cemerlang. Ia mendapat predikat lulusan terbaik saat menyelesaikan pendidikannya di Akademi Militer.
Setelah gerakan 30 September yang ia komandoi gagal, Untung melarikan diri selama beberapa bulan. Sebelum akhirnya tertangkap di Brebes. Ia dieksekusi mati pada 1966 akibat keterlibatannya dalam tragedi berdarah itu.
(Rahman Asmardika)