Warga sekitar mendengar suara gemuruh dari Sungai Bengawan Solo. Lantaran penasaran, seorang warga bernama Lantip Joko Anggoro (44), bergegas menncari tahu sumber suara.
Kala itu, Lantip sedang mencari angin segar di tanggul di aliran Sungai Bengawan Solo, di Surtanan RT 009/RW 004, Serenan, Juwiring, sekitar pukul 16.00 WIB. Dari tempat berdirinya, Lantip Joko Anggoro melihat ekor pesawat Garuda yang mendarat di Sungai Bengawan Solo.
Baca juga: Utang Garuda Rp70 Triliun, Erick Thohir Akui Ada Kesalahan Bisnis di Masa Lalu
19 Tahun Lalu, Pesawat Garuda Tembus Badai Es & Mendarat di Bengawan Solo Serenan Klaten
Suara gemuruh yang muncul dari Sungai Bengawan Solo memang bisa didengarkan siapa saja yang berada di Serenan dan sekitarnya berjarak satu kilometer dari sumber suara.
Warga kampung pun keluar dari rumah mereka masing-masing dan mendekati bibir Sungai Bengawan Solo.
Tanpa dimintai tolong, Lantip Joko Anggoro dan 50-an warga kampung lainnya berinisiatif ingin memberikan pertolongan ke penumpang, pilot, kopilot, pramugari, yang masih berada di dalam pesawat.
Baca juga: Begini Cara Maskapai Genjot Pariwisata saat Pandemi Belum Sirna
Belakangan diketahui, pesawat yang mengangkut 54 penumpang dan enam awak pesawat itu baru saja mengalami persoalan teknis, yakni mesin mati di ketinggian 8.000 kaki. Pesawat yang terbang dari Mataram (NTB) ke Jogja itu ternyata juga ditumpangi seorang gubernur asal Mataram, kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jateng, warga negara asing (WNA) asal Australia, dan lainnya.
(Fakhrizal Fakhri )