PPRA LXII, kata Agus, juga menggelar seminar bertajuk "Modal Sosial Budaya menjadi Kekuatan Nasional dalam Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19." Sedangkan PPSA XXIII membuat seminar dengan judul "Roadmap Sistem Pendidikan Alternatid dalam Pusaran Pandemi dan Perkembangan Teknologi Meyambut Indonesia Emas 2045."
"Hasil seminar akan dipaparkan peserta kepada bapak Presiden," kata Agus.
Hasil Kajian Hilirisasi Mineral
Agus menuturkan, Lemhanas juga membuat kajian tentang hilirisasi mineral strategis dan logam tanah jarang guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Ada lima jenis mineral strategis yang jadi kajian utama katena keterdapatannya di nusantara, yakni nikel; bauksit; tembaga; timah; dan besi.
"Jika mineral strategis tersebut dikembangkan akan mampu menopang kebutuhan industri dalam negeri sehingga Indonesia tidak tergantung pada mineral dari luar negeri," ucap Mantan Wakil Ketua MPR Fraksi ABRI itu.
Baca juga: Buku Tentara Kok Mikir: Kunyah 40 Kali Makanan Jadi Kebiasaan Agus Widjojo
Agus mengungkapkan, Indonesia sebetulnya adalah negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia sebagaimana disampaikan Presiden Jokowi. Agus yakin dalam waktu tiga hingga empat tahun ke depan Indonesia bisa menjadi produsen utama produk barang jadi berbasis nikel, asalkan manajemen pengelolaannya baik.
"Melalui manajemen pengelolaan yang baik Indonesia akan menjadi produsen utama produk-produk barang jadi berbasis nikel seperti baterai listrik dan baterai kendaraan listrik," imbuhnya.
Baca juga: Agus Widjojo: Walau Ada Bencana Besar, Jangan Langsung Minta Tolong ke TNI
"Hilirisasi industri nikel akan meningkatkan nilai tambah biji nikel secara signifikan. Jika diolah menjadi sel baterai, nilainya bisa meningkat enam sampai tujuh kali lipat. Dan jika jadi mobil listrik akan meningkat lagi nilai tambahnya, yakni 11 kali lipat," tutup Agus.
(Fakhrizal Fakhri )