KALEIDOSKOP 2021: Semua Orang Tak Gentar Turun ke Jalan, Aksi Protes Kudeta Militer Myanmar Kian Memanas

Susi Susanti, Jurnalis
Sabtu 01 Januari 2022 11:05 WIB
Aksi protes kudeta militer Myanmar terus terjadi (Foto: Reuters)
Share :

MYANMARJunta Militer Myanmar mengudeta pemerintahan yang sah pada 1 Februari tahun lalu dan menyerahkan kekuasaan negara itu kepada panglima tertinggi angkatan bersenjata, menyusul penangkapan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dan para pemimpin tinggi lainnya.

Menurut Reuters, kekuasaan telah diserahkan kepada Panglima Militer Min Aung Hlaing. Melalui pidatonya di televisi milik militer Myawaddy TV, militer Myanmar mengatakan telah menahan para pemimpin politik kunci termasuk pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint sebagai tanggapan atas kecurangan pemilu dan telah menyatakan keadaan darurat.

Wakil Presiden Pertama Myanmar Myint Swe diangkat sebagai penjabat (plt) presiden negara itu. Dalam pernyataan yang disiarkan di televisi, militer Myanmar mengatakan Suu Kyi ditahan terkait dugaan “kecurangan pemilu”.

Baca juga: PBB dan AS Kecam Militer Myanmar Usai Protes Berakhir Mematikan

Aksi protes melawan militer Myanmar pun terus terjad dan kian memanas. Semua kalangan turun ke jalanan dan tak pernah gentar. Mulai dari pelajar, dosen, guru, tenaga kesehatan, dokter dan lainnya. Myanmar juga menghadapi gelombang kritikan dan kecaman dari dunia internasional. Termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi hak asasi manusia (HAM) internasional. Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara lainnya langsung memberikan sanksi internasional kepada militer Myanmar.

Protes pun masih terus berlanjut hingga akhir tahun lalu. Pada 6 Desember 2021, lima orang tewas dan setidaknya 15 orang ditangkap setelah pasukan keamanan Myanmar menabrak para demonstran anti-kudeta di Yangon dengan mobil.

Baca juga: Kelompok HAM: Junta Myanmar Blokir Bantuan untuk Pengungsi Usai Kudeta

Menurut keterangan saksi mata di lokasi kejadian, insiden itu menyebabkan puluhan orang terluka. Foto dan video di media sosial memperlihatkan kendaraan yang menabrak para pengunjuk rasa dan mayat-mayat bergeletakan di jalanan.

Protes anti-militer terus berlanjut meskipun korban tewas diperkirakan lebih dari 1.300 orang sejak kudeta 1 Februari. Protes yang tersebar seringkali merupakan kelompok kecil yang menyuarakan penentangan terhadap penggulingan pemerintahan terpilih yang dipimpin oleh peraih Nobel Aung San Suu Kyi dan kembalinya kekuasaan militer.

Militer Myanmar kerap menggunakan jalur kekerasan saat menghadapi para demonstran. Banyak saksi mata mengatakan pihak militer menembakkan gas air mata dan granat kejut.

Berbagai organisasi HAM menyatakan junta Myanmar memperketat cengkeramannya atas aliran bantuan kemanusiaan untuk ribuan keluarga yang terusir dari rumah mereka akibat pertempuran sejak kudeta 1 Februari. Junta dikatakan sengaja membuat warga sipil yang kelaparan tidak mendapatkan pasokan bantuan.

Lebih dari 284 ribu orang mengungsi akibat kekerasan paska kudeta hingga awal Desember tahun lalu. Sebagian besar dari mereka berada di kawasan terpencil dan bermedan sulit di bagian barat laut dan tenggara Myanmar.

Sementara itu, pengadilan junta militer Myanmar menjatuhkan hukuman penjara empat tahun bagi Suu Kyi. Dikutip BBC, dia dinyatakan bersalah atas tuduhan penghasutan dan melanggar undang-undang bencana alam.

Suu Kyi menghadapi selusin kasus yang mencakup beberapa tuduhan korupsi ditambah pelanggaran undang-undang rahasia negara, undang-undang telekomunikasi dan peraturan Covid-19, yang membawa hukuman maksimum gabungan lebih dari satu abad penjara. Pendukung Suu Kyi, mengatakan kasus tersebut tidak berdasar dan dirancang untuk mengakhiri karier politiknya dan mengikatnya dalam proses hukum sementara militer terus mengkonsolidasikan kekuasaan.

(Susi Susanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya