Haryo Penangsang berhasil dibunuh Sultan Pajang R Hadiwijaya, lewat senapati perang Danang Sutowijoyo (putra Ki Gede Pemanahan). Mereka duel di tepi bengawan sore, antara Cepu dan Blora.
Ritual tapa telanjang Ratu Kalinyamat berakhir setelah Sultan Pajang menghadap Ratu Kalinyamat sambil menenteng penggalan kepala Aryo Penangsang dan semangkok darahnya.
Kepala Haryo Penangsang digunakan untuk keset oleh Nyi Ratu Kalinyamat, dan darahnya digunakan untuk keramas.
Budayawan Jepara, Hadi Priyanto mengatakan bahwa kisah pertapaan Ratu Kalinyamat disebut dalam Babad Perang Demak.
Menurutnya, saat bertapa Ratu Kalinyamat tak benar-benar bertelanjang bulat.
"Itu ungkapan sanepo orang-orang Jawa kuno. Masyarakat menafsirkan ritual topo wudo bertapa sambil melepaskan semua pakaiannya. Padahal 'topo wudo' yang dilakukan Ratu Kalinyamat bukan dengan bertelanjang. Melainkan meninggalkan semua atribut kerajaan sebagai Ratu, berbaur dengan masyarakat desa," tuturnya.
Baca juga: Kisah Cut Nyak Dhien, Tokoh Perempuan yang Meninggal di Pengasingan
Catatan: Karya ini merupakan tulisan almarhum Doddy Handoko. Redaksi kembali memuat tulisan ini sebagai apresiasi karya agar tetap dikenang.
(Fakhrizal Fakhri )