"Saya tidak berbeda dengan, berani saya katakan, ribuan warga Selandia Baru lainnya yang mengalami dampak yang jauh lebih dahsyat yang dirasakan akibat pandemi, yang paling menyedihkan adalah ketidakmampuan untuk bersama orang yang dicintai kadang-kadang ketika mereka sedang sakit parah. Itu akan jauh, jauh melebihi kesedihan yang saya alami," ujarnya.
Perbatasan Selandia Baru telah ditutup untuk orang asing sejak Maret 2020. Pemerintah menunda rencana pembukaan kembali secara bertahap dari pertengahan Januari hingga akhir Februari karena kekhawatiran tentang potensi wabah Omicron seperti di negara tetangga Australia.
Orang yang dapat melakukan perjalanan ke Selandia Baru dengan pengecualian yang sempit harus mengajukan permohonan untuk tinggal di fasilitas karantina yang dikelola negara. Pemerintah pekan lalu berhenti mengeluarkan slot baru di tengah lonjakan jumlah orang yang datang dengan Omicron.
Sekira 94% populasi Selandia Baru di atas usia 12 tahun telah divaksinasi lengkap dan sekitar 56% dari mereka yang memenuhi syarat telah mendapatkan suntikan booster.
(Rahman Asmardika)