JAKARTA - Kepala Badan Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono mengatakan wilayah Laut Banda telah beberapa kali diguncang gempa merusak sejak tahun 1899 lalu.
“Wilayah Laut Banda merupakan kawasan rawan gempa. Sejarah mencatat di wilayah ini sudah beberapa kali terjadi gempa merusak seperti yang pernah terjadi pada: 30 September 1899 (M 7,8 ) 23 Agustus 1936 (M 7,3) dan 1 Februari 1938 (M 8,5),” dalam keterangan yang diterima, Rabu (2/2/2022).
Pagi ini, BMKG melaporkan Laut Banda diguncang gempa pukul 02.25.10 WIB. “Episenter gempa terletak di laut pada jarak 28 kilometer arah timur laut Maluku Barat Daya, dengan kedalaman 126 km,” kata Daryono.
Daryono mengatakan gempa ini merupakan jenis gempa menengah akibat adanya deformasi/patahan batuan pada sistem tunjaman Banda dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Dampak gempa berupa guncangan dirasakan di Saumlaki dengan skala intensitas II-III MMI dengan deskripsi getaran dirasakan seperti ada truk berlalu.
“Gempa ini tidak berpotensi tsunami karena hiposenternya relatif dalam, dengan magnitudo dibawah ambang batas rata-rata magnitudo gempa pembangkit tsunami, sehingga tidak menimbulkan gangguan kolom air laut,” kata Daryono.
Sementara itu, kata Daryono, seluruh peralatan tide gauge untuk monitoring muka laut milik BIG di sekitar pusat gempa seperti di Serwaru, Tutu Kembong, dan Marsela tidak mencatat adanya kenaikan muka air laut. “Hingga pukul 5.30 WIB hasil monitoring BMKG menunjukkan belum terjadi aktivitas gempa susulan,” katanya.
(Khafid Mardiyansyah)