Kosmologi Eropa awal abad ke-16 menyatakan bahwa Bumi duduk diam dan tidak bergerak di pusat beberapa bola konsentris yang berputar yang diisi oleh benda-benda langit: matahari, bulan, planet-planet yang diketahui, dan bintang-bintang. Sejak zaman kuno, para filsuf menganut kepercayaan bahwa langit tersusun dalam lingkaran (yang menurut definisi bulat sempurna), menyebabkan kebingungan di antara para astronom yang merekam gerakan planet yang sering eksentrik, yang kadang-kadang tampak berhenti di orbit Bumi dan bergerak mundur melintasi langit.
Pada abad kedua Masehi, ahli geografi dan astronom Aleksandria Ptolemy berusaha menyelesaikan masalah ini dengan menyatakan bahwa matahari, planet, dan bulan bergerak dalam lingkaran kecil di sekitar lingkaran yang jauh lebih besar yang berputar mengelilingi Bumi. Lingkaran kecil ini ia sebut episiklus, dan dengan menggabungkan banyak siklus epik yang berputar pada kecepatan yang berbeda-beda, ia membuat sistem langitnya sesuai dengan sebagian besar pengamatan astronomi yang tercatat.
Sistem Ptolemeus tetap menjadi kosmologi yang diterima di Eropa selama lebih dari 1.000 tahun, tetapi pada masa Copernicus akumulasi bukti-bukti astronomi telah membuat teori itu mulai diragukan. Para astronom tidak setuju pada urutan planet-planet dari Bumi, dan masalah inilah yang ditangani Copernicus pada awal abad ke-16.
Antara 1508 dan 1514, Copernicus menulis sebuah risalah astronomi pendek yang biasa disebut Commentariolus, atau "Komentar Kecil", yang meletakkan dasar bagi sistem heliosentrisnya (berpusat pada matahari). Karya itu tidak diterbitkan semasa hidupnya. Dalam risalah tersebut, ia dengan tepat mendalilkan urutan planet yang diketahui, termasuk Bumi, dari matahari, dan memperkirakan periode orbitnya secara relatif akurat.
Bagi Copernicus, teori heliosentrisnya sama sekali bukan titik balik, karena teori itu menciptakan masalah sebanyak yang dipecahkannya.