Sosok Penghulu yang Bujuk Pangeran Diponegoro Menyerah ke Belanda

Avirista Midaada, Jurnalis
Senin 28 Februari 2022 13:02 WIB
Pangeran Diponegoro (foto: ist)
Share :

PANGERAN DIPONEGORO menjadi buronan Belanda setelah di akhir tahun 1829. Ia terpaksa memasuki hutan belantara bersama dua punakawan atau pengiring Bantengwerang dan Roto. Di tangan kedua pendampingnya inilah sang pangeran juga dipenuhi kebutuhannya.

Sang pangeran terus memasuki hutan belantara di sebelah barat Bagelen. Hujan panas, rasa sakit akibat serangan malaria dan luka di kakinya tak dia hiraukan. Tekadnya untuk terus melarikan diri dan tak menyerah kendati telah diambang kekalahan jadi modalnya. Tetapi seorang jenderal Belanda Cleerens mencoba membujuknya untuk berdiskusi membuka pembicaraan dengan Belanda.

BACA JUGA:Kisah Kepala Pangeran Diponegoro Dihargai 20 Ribu Gulden oleh Belanda 

Tetapi berulang kali Cleerens mengirimkan surat ke Pangeran Diponegoro, dikutip dari buku "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 - 1855" tulisan Peter Carey, berulang kali pula sang pangeran menolak membaca surat dari Cleerens.

Pertahanan diri Pangeran Diponegoro akhirnya pupus setelah seorang kawan lamanya, yang juga penghulu pangeran, Kiai Pekih Ibrahim membujuknya. Sang tokoh agama ini diutus untuk bertemu Cleerens dan mengundang Pangeran Diponegoro di Remokamal, di hulu Kali Cingcingguling, pada Selasa 16 Februari.

 BACA JUGA:Terserang Wabah Penyakit, Prajurit Belanda Kewalahan Hadapi Pangeran Diponegoro

Bahkan Belanda telah menyiapkan penyambutan sang pangeran dengan meminta kain hitam yang cukup bagi sekitar 400 prajurit, uang tunai 200 gulden, satu payung emas kebesaran untuk menandai kepulangan status Pangeran Diponegoro sebagai sultan. Dua pasang gunting cukur untuk keperluan dirinya dan para prajurit pangeran juga telah disiapkan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya