JAKARTA - Pertengahan 1942, Sarwo Edhie Wibowo berusia remaja tengah bersembunyi ketakutan di tepi Kali Bogowonto, dekat Kampung Kedung Kebo, Purworejo, Jawa Tengah. Hari itu, tentara Jepang merangsek masuk ke desanya.
Sarwo ditemani kakaknya, Murdiah Hardiyati bersembunyi di antara semak belukar dengan keadaan sambil memakai sarung. Sedangkan saudaranya yang lain kocar-kacir entah ke mana.
Murdiah juga menceritakan keadaan kedua orang tuanya pada saat itu. Ibunya bersembunyi di rumah tetangga sedangkan ayahnya tetap berada di rumah.
"Ibu saya (Surtini) bersembunyi di rumah tetangga, Bapak (Kartowilogo) bertahan di rumah," tutur Murdiah.
Sarwo baru saja lulus MULO. MULO adalah Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda. Kemudian, Ia terpanggil menjadi prajurit. Dia ikut kakak pertamanya, Murtogo, ke Surabaya.
Baca Juga: Perseteruan Terpendam Sarwo Edhie Prabowo dengan Soeharto, Begini Awal Mulanya!
Di Surabaya, Sarwo mendaftar menjadi heiho (pembantu tentara). Namun, umurnya baru 15 tahun, tidak sesuai dengan persyaratan. Tak hilang akal, akhirnya ia mengganti tahun kelahirannya menjadi 1925.
Di asrama, tugas Sarwo hanya memotong rumput serta membersihkan WC dan tempat tidur tentara Jepang.
Dikutip dari buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965, saat perang kemerdekaan, Sarwo Edhie diajak Ahmad Yani, sesama eks anggota Pembela Tanah Air, bergabung dalam Batalion III Badan Keamanan Rakyat. Batalion itu dikomandani Yani, pemuda asli Kampung Ngrendeng. Gebang, Purworejo. Sarwo bertugas membawa mortir.
Saat Yani membentuk Batalion baru, Sarwo diangkat menjadi komandan kompi Batalion V Brigade IX Divisi Diponegoro sampai 1951.
(Arief Setyadi )