JAKARTA - Di asrama pendidikan Ampeldenta, Surabaya menjadi tempat proses Raden Rahmat mengajar dan menggembleng para nayaka praja serta putra-putri kaum bangsawan Majapahit.
(Baca juga: Ketika Sunan Ampel Minta Dibuatkan Masjid Sederhana kepada Raja Majapahit)
Melansir Brawijaya Moksa Detik-Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit, Raden Rahmat yang belakangan dikenal sebagai Sunan Ampel menyadari benar bahwa yang diajar dan dididik adalah para pemeluk agama Hindu Budha, sehingga ia harus menerapkan pengajaran yang sangat moderat dan penuh kebijaksanaan.
Maka dari itu, ia harus mampu mengemas ajaran Islam dengan baik agar mudah dipahami dan diterima oleh para nayaka praja serta putra-putri kaum bangsawan Majapahit.
"Kalau aku mengajar mereka secara vulgar, jelas mereka malah menjadi anti-pati! Maka, aku harus menyembunyikan ajaran Islam kepada mereka, sebaliknya aku akan mengemas ajaran Islam tersebut ke dalam suatu ajaran mulia yang sangat islami!" begitu gumam Raden Rahmat ketika hendak mengajar soal Aqidah Islamiyah yang dikemas dalam suatu ajaran yang tidak mencolok.
Ajaran yang diajarkan oleh Raden Rahmat tersebut ternyata berupa 'Falsafah Ma Lima' yang mengajak kepada para murid-muridnya agar menghindarkan dan menjauhkan diri dari lima perbuatan tercela.