BMKG Prediksi Kenaikan Suhu Capai 4 Derajat Celcius pada 2100

Carlos Roy Fajarta, Jurnalis
Senin 21 Maret 2022 15:30 WIB
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (Foto: Setkab)
Share :

JAKARTA - Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan akan terjadi kenaikan suhu jika pemerintah tidak melakukan mitigasi terkait pemanasan global dan gas rumah kaca.

Gas rumah kaca tersebut pada umumnya disebabkan gas CO2 (karbon dioksida) dari kendaraan bermotor dan industri. Bila terus dibiarkan maka kenaikan suhu di seluruh pulau utama di Indonesia mencapai 4 derajat celcius pada tahun 2100.

Baca Juga:  Suhu Jakarta Naik 1,5 Derajat Celcius, Kepala BMKG: Harusnya Terjadi 2030!

Hal tersebut disampaikannya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR RI di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta pada Senin (21/3/2022).

"Yang paling mencemaskan dari analisis BMKG, terjadi kenaikan suhu hingga tahun 2100 di seluruh provinsi pulau utama di Indonesia apabila tidak dilakukan mitigasi iklim," ujar Dwikorita Karnawati.

Ia menyebutkan, dibandingkan jaman pra industri pada 1850, ada peningkatan suhu udara 4 derajat Celcius saat ini. Artinya, ada peningkatan empat kali lipat sudah terjadi saat ini.

"Hal ini menyebabkan cuaca ekstrim semakin sering, intensitas meningkat, dan durasi semakin panjang. Apalagi, kalau suhu tersebut meningkat empat kali lipat di tahun 2100," ujar Dwikorita.

Ia memberi contoh Puncak Jaya Wijaya yang pada 2020 memiliki ketebalan es 31,49 meter, maka pada 2025 diprediksi es sudah punah tidak ada lagi di puncak Jaya Wijaya.

Baca Juga:  Curah Hujan di Indonesia Meningkat 70 Persen, Kepala BMKG Ungkap Penyebabnya

Saat ini kondisi es di Gunung Jaya Wijaya hanya tinggal 1 persen dari puncak area Jaya Wijaya yang memiliki luas 200 kilometer persegi atau saat ini lapisan es hanya ada di sekitar 2 kilometer persegi.

Proyeksi iklim di 2030 berdasarkan basis 2006-2016, di 2030 suhu udara akan meningkat 0,5 derajat Celcius dalam kurun waktu 10 tahun dan curah hujan lebih kering 20 persen. Hal ini dijelaskan Dwikorita Karnawati disebabkan potensi bencana hidrometeorologi semakin meningkat.

"Periode El Nino (musim kering panjang) dan La Nina (musim hujan basah yang ekstrim) periode sebelum 1980 itu 5-7 tahun sekali. Namun, karena perubahan iklim pada 1981 memendek jadi 2-3 tahun, dan dua tahun terakhir terjadi setiap tahun," kata Dwikorita.

Cuaca ekstrem seperti badai tropis Cempaka dan Seroja seharusnya tidak menembus wilayah khatulistiwa seperti di Indonesia juga sekarang kerap terjadi.

"Misalnya, dua badai tropis tersebut yang biasanya hanya masuk ekornya saja, sekarang seluruhnya kepala hingga ekor masuk ke wilayah pulau. Hal ini disebabkan karena kenaikan suhu udara, terakhir badai tersebut seluruh bagian badai masuk ke daratan NTT," kata Dwikorita.

Ia mengungkapkan, bencana hidrometeorologi di Indonesia meningkat, menjadi bencana terbesar dengan prosentase 95 persen.

"Total bencana di 2021 ada 5.402 kasus bencana sebagai dampak perubahan iklim global," tutup Dwikorita.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya