TUBAN – Peristiwa meninggalnya dua orang ibu dan anak warga Desa Dermawuharjo, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban yang melakukan ritual meminta tidak hujan seperti pawang hujan Rara Istiati Wulandari di Sirkuit Mandalika, beberapa waktu lalu, membuat heboh.
(Baca juga: Tiru Pawang Hujan Rara, Ibu dan Anak Tewas Mengenaskan di Petilasan Keramat Empu Supo)
Saat ini, lokasi Perapen atau Petilasan Empu Supo, ditutup sementara waktu untuk menghindari korban bertambah. Sementara, pihak desa setempat dan kepolisian juga melarang warga yang akan melakukan ritual.
Karena di pagi hari, racun yang ditimbulkan belerang, masih menggumpal di lokasi dan saat pagi hari masih berembun serta belum ada sinar matahari yang membuat racun belerang atau H2S belum menyebar ke udara sekitar.
Kedua orang korban, ibu dan anak tersebut adalah Marsih dan Mariyanto. Ibu dan anak ini tewas usai menggelar ritual meminta tidak hujan dan keracunan gas belerang di petilasan keramat peninggalan Empu Supo, seorang empu sakti pembuat keris pada masa kerajaan majapahit.
Kapolsek Grabagan, Iptu Darwanto mengatakan, kejadian tersebut bermula saat korban Marsih/ berkunjung ke Petilasan Empu Supo terlebih dahulu, untuk melakukan ritual agar pada saat pelaksanaan panen padi esoknya tidak turun hujan.
Marianto, anak korban curiga karena sang ibu tak kunjung pulang. Dia kemudian menyusul ibunya ke lokasi kejadian.
Marianto yang mengetahui ibunya itu telah tergeletak di area petilasan, bergegas melakukan pertolongan dengan mengangkat tubuh sang ibu. Namun Marianto justru turut tewas akibat tajamnya aroma H2S atau racun belerang itu.
“Kedua korban sedianya hendak menggelar ritual meminta hujan tidak turun saat akan panen padi,”ujar Darwanto.
Kata dia, mereka diduga tidak mampu menghirup gas belerang yang sangat pekat itu, korban sempat mengalami sesak nafas hingga akhirnya meninggal dunia.
“Korban hendak melakukan ritual di Petilasan Empu Supo karena tradisi warga Desa Dermawuharjo yang akan melaksanakan panen padi,”tutupnya.