Persaudaraan dalam Kemanusiaan, Pelajaran dari Tokoh Pendidikan Islam di Indonesia Timur

Tim Okezone, Jurnalis
Minggu 27 Maret 2022 08:13 WIB
Belajar persaudaraan dan kemanusiaan dari tokoh Islam Indonesia Timur (Foto : Istimewa)
Share :

Idrus Bin Salim Aljufri telah dikenal sebagai tokoh pendidikan Islam di Indonesia Timur, khususnya Sulawesi Tengah. Keberhasilan Habib Idrus terlihat dari jumlah madrasah yang saat ini berada di bawah PB Alkhairaat yaitu sebanyak 1.600 madrasah/sekolah dan 34 pondok pesantren di kawasan timur Indonesia. PB Alkhairaat juga memiliki Universitas Alkhairaat (Unisa) dengan tujuh fakultas serta Rumah Sakit Islam S.I.S Aljufri.

Program internasional LKLB menjadi kerja sama pertama antara PB Alkhairaat dan Institut Leimena. Pada tahap awal, pelatihan LKLB akan digelar 23-27 Mei 2022 secara daring dengan target setiap angkatan sebanyak 500 guru madrasah dan dosen di lingkungan Alkhairaat dari total peserta yang akan dilatih sekitar 3.000 orang.

Al-Quran dan Teladan Nabi

Dalam sambutan secara daring, Senior Fellow Institut Leimena, Prof Alwi Shihab, mengatakan pendiri Alkhairaat, Habib Idrus, telah meletakkan dasar yang kokoh untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama. Dia mengakui konsep LKLB bukan suatu hal baru, tapi memang bersumber dari Al-Quran dan teladan Nabi Muhammad SAW.

"Inti daripada program LKLB adalah bagaimana umat secara pribadi dapat berinteraksi dengan pihak lain, dengan berpedoman kepada sumber pokok yakni Al-Quran dan keteladan Nabi,” kata Prof. Alwi yang juga mantan menteri luar negeri dan mantan utusan khusus presiden untuk Timur Tengah dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Guru Tua telah memberikan warisan yang sangat visioner yaitu pendidikan karakter atau multikultural, nasionalisme atau cinta tanah air, dan Islam kosmopolitan atau wasatiyah.

Ketiga warisan itu sejalan dengan inti dari program LKLB yang dilandasi tiga kompetensi yaitu kompetensi pribadi artinya bagaimana kita memahami agama masing-masing dengan baik, kompetensi komparatif yaitu bagaimana kita memahami agama yang berbeda dari kacamata penganut agama tersebut, dan kompetensi kolaboratif yaitu bagaimana bekerja sama dengan orang yang berbeda.

“Program LKLB adalah sebuah program yang kami kembangkan bersama sejak tahun lalu. Intinya bagaimana kita semakin memperkuat persaudaraan antara sesama sebagai umat manusia walaupun kita berbeda agama dan kepercayaan. Kita bisa bekerja sama untuk kebaikan dan kemanusiaan tanpa meninggalkan karakteristik kita yang berbeda,” kata Matius.

Rektor Universitas Alkhairaat, Dr. Umar Alatas, mengatakan LKLB sejalan dengan semangat kampus tersebut untuk memperkuat pluralisme. Perbedaan menjadi rahmat untuk semua orang sehingga persoalan kemanusiaan bisa diselesaikan bersama.

(Angkasa Yudhistira)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya