Sarinah adalah bagian dari rumah tangga di keluarga Bung Karno. Dia tidak kawin dan dianggap bagian anggota keluarga. "Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami, memakan apa yang kami makan, akan tetapi ia tidak mendapat gaji sepeser pun," ungkap Bung Karno dalam buku tersebut.
Dialah yang mengajar Soekarno untuk mengenal cinta‐kasih, tetapi bukan dalam pengertian jasmaniahnya.
"Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata. Selagi, ia memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku duduk disampingnya dan kemudian ia berpidato, "Karno, yang terutama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mencintai pula rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya."
Sarinah adalah nama yang biasa. Akan tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita yang biasa. Ia adalah satu kekuasaan yang paling besar dalam hidup Soekarno.
"Di masa mudaku aku tidur dengan dia. Maksudku bukan sebagai suami‐isteri. Kami berdua tidur di tempat tidur yang kecil. Ketika aku sudah mulai besar, Sarinah sudah tidak ada lagi," jelas Bung Karno.
(Awaludin)