Namun, karena mereka tidak bisa melaju bersama mobil ambulans hingga akhirnya ia hanya bertemu dengan orangtua korban.
Slamet menuturkan, berdasarkan cerita rekan korban, saat itu korban bersama rekannya sesama siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Ketiganya bukan warga DIY dan kos di belakang Taman Makam Pahlawan Kusumanegara.
Mereka pergi bertiga menggunakan dua sepeda motor di mana DAA (17) berboncengan dengan DP yang kebetulan nama depan mereka sama dan seorang lagi menggunakan satu sepeda motor lain. Ke mana mereka mencari makan sahur, ia mengaku tak mengetahuinya secara pasti.
"Mereka pergi untuk makan sahur. Tapi di mana saya tidak tahu," kata Slamet.
Saat itu, ketiganya keluar dari kos-kosan hendak mencari makan sahur. Kebetulan pagi harinya mereka berencana untuk pulang ke kampung masing-masing mengingat di sekolah mereka hanya menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh.
"Jadi, minggu ini siswa kelas 10 dan 11 melakukan PJJ. Karena ruangan digunakan untuk ujian kelas 12 dan gurunya juga mengawasi," ujar dia.