“Dalam keadaan serbabingung, tampillah burung Hudhud. Ia mengatakan pada semua burung bahwa memang bangsa burung memiliki raja. Namanya Simurgh. Kalau bangsa burung hendak mengenal rajanya, mereka harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dan berat menuju Simurgh”.
“Mereka mau, Dur?”
“Iya, kiai. Dipimpin Hudhud, mereka akhirnya mencari Simurgh”.
“Ketemu?”
“Tidak kiai. Setelah hanya tersisa kurang lebih 30 jenis, mereka akhirnya menemukan diri mereka sendiri”.
“Yo, yo...Mudeng aku”
“Inggih, kiai”
Lalu, sang kiai terdiam. Ia pandangi Ad-Dakhil, yang juga memandang ke arahnya. Tetapi Ad-Dakhil tak mampu menatap lama. Ia lantas kembali pada rangkaian-rangkaian kalimat indah dari buku Fariduddin Attar itu.
(Khafid Mardiyansyah)