“Bisa dibayangkan betapa tingginya intensitas interaksi sosial yang berlangsung selama libur Lebaran ini, dan betapa tinggi risikonya bila tidak termitigasi dengan baik sejak awal termasuk kewaspadaan terhadap penularan hepatitis akut di kalangan anak dan remaja,” lanjut Budi Gunawan, yang juga merupakan penggagas Medical Intelligence di Tanah Air ini.
Pemerintah cukup percaya telah mengambil langkah yang tepat untuk memberikan pelonggaran bagi masyarakat untuk mudik setelah dua tahun dibatasi karena berbagai indikator penanganan pandemi yang memang sudah memadai.
Sebulan lebih jelang mudik, tren perbaikan status pandemi memang berlangsung konsisten. Setelah mencapai puncak gelombang ketiga pada 16 Februari 2022 (64.718 kasus harian), kasus harian terus mengalami penurunan, diiringi dengan tren kenaikan jumlah pasien sembuh harian yang selalu lebih tinggi. Positivity rate terus turun dan stabil di bawah 5%, sesuai standar aman WHO. Tingkat keterisian (BOR) rumah sakit yang sempat di atas 60% juga semakin melandai tinggal satu digit. Dan yang paling melegakan, sero survei pada Maret 2022 menunjukkan, 99,2% penduduk telah memiliki antibodi yang baik, sekitar 7.000-8.000.
Baca juga: Jelang Libur Lebaran, BIN Jemput Bola Kebut Vaksinasi Covid-19 di Bali
“Hal ini menunjukkan, kombinasi antara percepatan vaksinasi dan pengendalian sosial tanpa lockdown total yang diinstruksikan Presiden terbukti efektif berhasil,” ujar Budi Gunawan.
“Temuan ilmiah terakhir Omicron tidak lebih ringan dari Delta, namun dengan strategi pemerintah yang tepat keduanya dapat diantisipasi, maka kita percaya sudah berada di jalur yang tepat bertransisi menuju endemi," imbuhnya.
Baca juga: Jelang Mudik, Masyarakat Antusias Ikut Vaksinasi Malam Hari Usai Sholat Tarawih
Sembari menjalani proses tersebut dengan kewaspadaan dan tanpa ketergesaan, jelas Budi Gunawan, vaksinasi hingga dosis booster harus tetap dilanjutkan.