Lahirnya Boedi Oetomo kemudian menginspirasi pergerakan timbulnya gerakan pemuda lainnya, seperti Sarekat Dagang Islam dan Muhammadiyah. Soeradji mengungkapkan, hal tersebut membuktikan bahwa pendidikan mampu mempersatukan para pemuda sehingga menjadi kaum intelektual yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
"Pada 1915 lahir pula Tri Koro Dharmo, yang pada 1917 berubah menjadi Jong Java atau pemuda Jawa. Lalu terbentuk pula Jong Sumatera dan lainnya. Mereka berkumpul tujuannya untuk solidaritas dan kebudayaan, bukan untuk politik. Kesatuan terbentuknya di sekolah," sebutnya.
Sejarah berdirinya Boedi Oetomo tersebut tak terlepas dari Sekolah STOVIA atau Sekolah Dokter Bumi Putera yang didirikan pada 1899. STOVIA menjadi lembaga pendidikan pertama yang menjadi tempat berkumpulnya para pelajar dari berbagai wilayah di Tanah Air.
"Di sinilah tepat dilahirkannya pergerakan pertama untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Mulai 1920 kegiatan pendidikan STOVIA pindah ke gedung baru di Salemba," ucapnya.
Mengingat banyaknya sejarah yang terjadi di Sekolah STOVIA, pemerintah DKI Jakarta pada 1973 melakukan pemugaran dan pada 20 Mei 1974 diresmikan oleh Presiden Soeharto sebagai Gedung kebangkitan Nasional.
Kemudian, pada 27 September 1982 pemerintah DKI Jakarta menyerahkan pengelolaan Gedung Kebangkitan Nasional kepada pemerintah pusat. Pada 7 Februari 1984 pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan sebuah museum di dalam Gedung kebangkitan Nasional dengan nama Museum kebangkitan Nasional (Muskitnas) hingga saat ini.
(Awaludin)