Hari Lahir Pancasila dan Perenungan Soekarno saat Pengasingan di Ende

M Purwadi, Jurnalis
Rabu 01 Juni 2022 08:10 WIB
Soekarno
Share :

Al Zastrouw juga merinci, ada 3 fase sampai pada perenungan itu. Pertama, eksplorasi terhadap ayat-ayat Qauliyah dan Kauniyah. Kedua, internalisasi terhadap sepirit nilai terhadap apa yang ada di ayat Qauliyah dan Kauniyah. Ketiga, saat melakukan eksplorasi itu tidak langsung dihakimi, tapi dimuntahkan lagi untuk direkonstruksi.

“Kalau ada orang cerita, Pancasila datang tidak dari langit, iya. Prosesnya apa secara metodologis. Ini adalah mendialogkan antara yang Qauliyah dan Kauniyah, mendialogkan antara yang modern dengan yang tradisional, antara yang rasional dan spiritual. Inilah proses menuju bangunan Pancasila itu,” ujarnya.

Karena itu, Al Zastrouw melanjutkan, ketika ada orang modern tiba-tiba datang dan ingin mengganti sistem ketatanegaraan Indonesia yang murni modern, maka tidak akan konektif dengan Pancasila. Demikian juga dengan kaum agamawan yang datang dan ingin menerapkan sistem syariah, khilafah, dan sebagainya. Karena tidak mendialektikan seperti yang dilakukan Soekarno, pasti akan mengalami problem.

Dialektika-dialektika itu merupakan sumber daya yang sudah dikembangkan, dieksplorasi, dan ditanamkan Soekarno sekian tahun dan menemukan sintesanya ketika diasingkan di Ende, jauh dari teman-teman seperjuangan dan saat kesepian di pengasingan. Al Zastrouw mengistilahkan itu sebagai kawah Candradimuka dalam rangka mengkontruksi dan mengkonseptualisasikan Pancasila pada saat-saat sepi, menyendiri, dan saat dia berdialog dengan hatinya.

“Saya kira, di Ende ini adalah Goa Hiranya Bung Karno. Kalau Nabi Muhammad melakukan pengembaraan jadi pedagang, pengembaraan, itu adalah proses dialektikanya beliau dalam membaca ayat Kauniyah, belum dapat ayat Qauliyah saat itu. Sementara Bung Karno sudah mendapatkan dua-duanya. Bung Karno mendapatkan keduanya saat di Ende ini. Sementara, Nabi Muhammad SAW baru mendapatkan ayat Qauliyahnya atau wahyu pertamanya setelah menjalani kontemplasi di Gua Hira. Ende inilah Gua Hira-nya Pancasila, kalau boleh saya analogikan,” ucapnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya