Waduh! Jumlah Perokok Indonesia Nomor 3 di Dunia

Agregasi VOA, Jurnalis
Kamis 02 Juni 2022 08:36 WIB
Ilustrasi rokok. (Foto: Reuters)
Share :

Aktivitas Daring Naikkan Paparan Iklan Rokok ke Anak dan Remaja

Kemitraan ketiga, kata ketua harian Saka Bakti Nasional Pramuka di bidang kesehatan itu, adalah “private sector, public-private sector partnership (kemitraan pemerintah-swasta); Sementara yang keempat merupakan unsur organisasi masyarakat sipil, termasuk organisasi profesi, filantropi, LSM, dan yang kelima penting adalah media massa, termasuk media cetak, media elektronik dan juga media digital. “Ya alhamdulillah ini teman-teman kami ajak, cari mitra dan ini bukan hanya untuk masalah rokok, tapi seluruh masalah kesehatan. Dengan bermitra mudah-mudahan kami bisa meminimalisir dampak,” tambahnya.

Dokter Imran setuju bahwa prevalensi konsumsi rokok di Indonesia “memang menyedihkan.” Dia mengatakan keadaan demikian sudah berlangsung lama, dan menurutnya “ini bukan karena salah pendekatan, tetapi mungkin kurang optimal, yang pertama memang dari sisi kasus kesehatan, kemudian berdampak pada pembiayaan.”

Imran menyatakan bahwa dari sisi dampak penyakit yang kita kenal, penyakit tidak menular, misalnya stroke dan sebagainya sudah banyak datanya, tapi yang tidak kalah penting bagaimana kasus tuberkulosis (TBC) di Indonesia masih tinggi, tepatnya tertinggi ketiga di dunia setelah India dan China.

“Jadi ada kaitannya dari sisi kedokteran, bagaimana antara tuberkulosis dan diabetes dengan perilaku merokok ini sebenarnya in line. Biasanya kan orang yang merokok kena diabetes, kemudian penyakitnya lari ke stroke dan sebagainya. Kemudian yang kita khawatirkan perokok muda,” tukasnya.

Iklan rokok elektrik yang menyesatkan

Imran menyatakan kekhawatiran tentang semakin banyaknya perokok muda, terutama terkait konsumsi rokok elektrik. Dia mengaku telah berdiskusi dengan Philip Morris “yang menjadi public enemy” tentang rokok elektrik yang kini beredar luas dan populer di kalangan remaja.

“Rokok elektrik itu sudah banyak di kios-kios dan saya saksikan sendiri di lobi hotel terkenal di Jakarta, ternyata yang membeli itu anak remaja, padahal dari sisi produsennya bilangnya rokok elektrik untuk (konsumen) di atas 18 tahun, orang dewasa. Nah, pengawasannya ini yang menurut saya rasa juga kurang optimal.”

Menurut Imran, rokok elektrik ternyata banyak diiklankan lewat YouTube atau sesama (dari mulut ke mulut), bahwa rokok elektrik itu dampaknya lebih ringan daripada rokok konvensional. Akibatnya, banyak anak muda yang tadinya coba-coba akan kecanduan karena kandungan nikotinnya.

“Data-data ini kita sudah punya. Ternyata setelah mencoba rokok elektrik, dia merasa kurang, dan itu saya saksikan sendiri dari testimoni, merasa kurang menantang akhirnya menjadi perokok konvensional. Ini yang kita khawatirkan awalnya yang akan diiklankan ringan-ringan, akhirnya dia mencoba yang lebih menantang. Sangat menyedihkan.”

Mengingat prevalensi dan potensi kerugian pada kesehatan, selain kampanye tidak merokok oleh pemerintah bersama lembaga-lembaga swadaya masyarakat, Imran menandaskan bahwa pihaknya kini sedang merevisi suatu regulasi tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.

“Dari segi peraturan sekarang kita sedang susun lagi, walaupun kemarin Menkes sudah siap mengajukan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 yang waktu itu belum mengenal iklan melalui YouTube, iklan melalui media digital, belum mengenal rokok elektronik. Jadi, sejak tahun 2017 bersama-sama dengan penggiat antirokok dan sektor-sektor kementerian yang pro tidak merokok kita revisi. Jadi kita revisi, tapi kemudian dikembalikan untuk revisi. Istilahnya izin prakarsa Menkes tahun 2021 kemarin dikembalikan. Nah, kami sekarang sedang susun untuk memperbaikinya walaupun waktu itu izin prakarsanya dikembalikan dengan – mohon maaf kalau saya bilang tidak jelas mengenai apa yang harus diperbaiki. Ya sudah, sekarang ini sedang kami susun naskah akademisnya," ungkapnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya