Prabu Revolusi Sebut Media Menjadi Salah Satu Elemen Penting Demokrasi

Riana Rizkia, Jurnalis
Sabtu 11 Juni 2022 17:51 WIB
Praktisi Media, Prabu Revolusi/Riana Rizkia
Share :

JAKARTA - Praktisi Media, Prabunindya Revta Revolusi atau yang lebih dikenal Prabu Revolusi menyebutkan bahwa media adalah salah satu elemen penting dalam berlangsungnya demokrasi.

Terlebih, saat ini Indonesia juga sudah memasuki tahun-tahun politik.

"Perlu kita pahami bahwa media merupakan salah satu elemen penting dari berlangsungnya demokrasi di sebuah negara, ini bisa dilihat sangat mudah biasanya di tahun tahun politik," kata Prabu saat mengisi webinar Tren Transformasi Media dan Implikasinya Pada Kampanye Pemilu 2024 melalui daring, Sabtu (11/6/2022).

Menurut Prabu, menjelang Pemilu 2024, baik pelaku politik maupun partai politik akan membutuhkan media massa.

"Pelaku politik atau parpol akan mulai merapat ke media. karena tentu media adalah tools yang paling mudah untuk bisa membentuk opini publik," ucapnya.

Media massa, kata Prabu, memiliki super power dalam membentuk opini publik. Salah satunya dengan menggunakan agenda setting.

"

Saya pikir agenda setting ini sering dibicarakan, namun tidak banyak yang mengetahui bahwa agenda setting merupakan super power media yang sangat berbahaya," katanya.

Prabu mengatakan, jika media massa menggunakan kekuatan dengan salah, maka yang menjadi korban adalah khalayak.

Pada kesempatan yang sama Rektor Universitas Paramadina, Didik Rachbini juga mengungkapkan bahwa saat ini banyak media massa bermunculan tanpa norma.

Didik mengatakan, hal tersebut merupakan sisi gelap dari teknologi informasi. Salah satu contohnya, kata Didik, ialah lahirnya banyak media massa yang menyebar hoax, dan juga kemunculan buzzer.

"Dan pola merusak ruang publik ini melalui media, media sosial, media news, media pribadi termasuk buzzer, dan buzzer itu fenomena baru, termasuk relawan," kata Didik.

Menurutnya, media tanpa norma, buzzer, hingga relawan adalah hama demokrasi yang merusak ruang publik.

Baik Prabu maupun Didik mengatakan hal yang sama, yakni perlu adanya usaha memerangi transformasi media negatif serta hama demokrasi.

"Saya melihat bahwa di 2024 akan lebih real dan akan terjadi polarisasi yang hebat jika tidak ada intervensi atau tidak ada effort dari kita dan membiarkan informasi bebas berkeliaran seperti sekarang," ucap Prabu.

(Natalia Bulan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya